7 Gejala Bronkhitis Pada Anak dan Balita

Bronkhitis merupakan peradangan atau infeksi yang terjadi pada saluran pernapasan dalam hal ini bronkus. Bronkhitis lebih sering terjadi pada anak dengan usia dibawah 5 tahun. Pada saat terjadi infeksi pada saluran napas, kemudian menyebabkan iritasi dan radang pada lapisan mukosa bronkus. Akibat peradangan, maka mukosa menjadi bengkak dan produksi lendir menjadi berlebihan. (Baca juga: Cara mengatasi demam pada bayi)

Bronkhitis terbagi atas dua jenis, yaitu bronkhitis akut dan bronkhitis kronis, yang dibedakan berdasarkan lamanya terjadi penyakit. Bronkhitis akut, merupakan bronkhitis yang baru saja dialami oleh penderita. Sedangkan bronkhitis kronis umumnya adalah bronkhitis yang sudah dialami berbulan-bulan oleh penderitanya atau sudah sering kambuh-kambuhan. Pada anak, paling sering terjadi bronkhitis akut.

(Baca juga: Gejala asma pada bayi)

Beberpa faktor penyebabnya biasa akibat dari paparan rokok dari orang sekitarnya, biasanya anak sering terhirup asap rokok misalnya dari Orang Tua, Kakak, Tetangga atau orang lainnya. Akibatnya saluran napas dalam hal ini bronkus mudah mengiritasi dan radang, lalu dapat diperberat dengan adanya infeksi oleh mikroorganisme seperti bakteri dan virus. Berikut beberapa gejala bronkhitis yang dapat terjadi pada anak:

(Baca juga: Gejala masuk angin pada anak)

1. Batuk – batuk

Batuk merupakan reaksi tubuh yang bertujuan sebagai fungsi pertahanan tubuh. Pada manusia refleks batuk adalah hal yang normal untuk mengeluarkan benda asing bagi tubuh. Pada bronkhitis, terdapat gejala batuk – batuk yang kadang disertai dengan lendir. Lendir pada batuk tersebut sebenarnya berasal dari reaksi radang di dinding mukosa bronkus (cabang dari trakea). Akibat radang, maka dinding mukosa mengalami bengkat dan permeabilitas kapiler menignkat dan terjadi sekresi atau pengeluaran cairan berlebihan pada mukosa yang bengkak tersebut. Cairan yang di keluarkan tersebut bersifat lendir. (Baca juga: Cara mengobati batuk berdahak pada bayi)

Pengeluaran cairan yang bersifat lendir pada mukosa lama – kelamaan akan mennumpuk dan menjadi banyak. Dan menyumbat saluran napas. Oleh karena itu, dibutuhkan refleks batuk dari tubuh untuk membuang atau mengeluarkan lendir tersebut dari bronkus sehingga saluran napas dapat terbuka kembali (pernapasan tidak terganggu). Selain itu, peran lendir yang di batukkan juga bisa sebagai media pembuangan. (Baca juga: Cara mengatasi batuk pada bayi secara alami)

Ketika kita bernapas menghirup debu, debu tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan dan berbahaya juka terus langsung ke paru – paru. Oleh karenanya lendir disini berperan sebagai perangkap untuk menahan debu (benda asing) tersebut agar tidak langsung masuk ke paru – paru. Debu atau benda asing yang tertangkap oleh lendir ini kemudian akan dibuang melalui mekanisme batuk. Sebenarnya selain debu, batuk juga bertujuan membuang lendir yang mengandung mikroorganisme seperti bakteri dan virus yang menginfeksi dinding bronkus. Akibat infeksi banyak jaringan yang mati dan rusak, oleh karenanya peran dari batuk dan lendir juga untuk memmbuang jaringan rusak dan mengeluarkan bakteri atau virus. (Baca juga: Obat campak pada anak)

2. Sesak napas

Sesak napas dapat menjadi gejala pada bronkhitis yang di alami oleh anak. Sesak terjadi akibat adanya lendi yang menyumbat saluran pernapasan, dalam hal ini bronkus. Pada saat mukosa bronkus meradang dan menghasilkan produksi cairan yang bersifa lendir lebih banyak untuk tujuan pertahanan tubuh agar benda asing tidak masuk ke paru – paru (selain debu, juga mikroorganisme seperti virus dan bakteri), ternyata lendir untuk tujuan pertahanan tersebut justru malah memberikan dampak sesak bagi tubuh. (Baca juga: Terapi asma pada anak)

Lendir yang di produksi untuk pertahanan mikroorganisme, ternyata semakin lama semakin menumpuk dan berkumpul di saluran bronkus. Akibatnya fungsi utama dari saluran bronkus sebagai saluran udar tidak dapat berjalan maksimal karena sebagian besar tertutup oleh lendir. Akibatnya klini yyang terjadi akibat kekurangan udara adalah terjadinya sesak dimana tubuh berusaha mengeluarkan karbondioksida sekuat – kuatnya dan menghirup oksigen sekuat – kuatnya. Selain itu, sesak juga terjadi akibat bengkak dinding bronkus, demana akibat bengkak di sekeliling bronkus tersebut membuat saluran bronkus semakin mengecil sehingga sirkulasi terganggu. (Baca juga: Obat tradisional muntah pada anak)


3. Demam

Akibat terjadinya radang pada bronkus, maka terjadi pelepasan zat – zat histokimia yang kemudian akan sampai di otak sebagai mediator kimia untuk menciptakan demam. Mediator kimia tersebut sampai di otak di daerah hipotalamus otak (pusat pengaturan suhu tubuh). Akibatnya di pusat pengaturan suhu tubuh terpicu menaikkan suhu tubuh (demam) akibat stimulasi mediator kimia tadi. Demam disini juga sebagai fungsi pertahanan, dimanan ternyata beberapa mikroorganisme tidak tahan dengan suhu panas. Oleh karenanya tubuh menciptakan suhu panas untuk membunuh mikroorganisme tadi. (Baca juga: Obat campak pada anak)

4. Nyeri tenggorokan

Nyeri tenggorokan terjadi akibat radang yang sudah mencapai di daerah tenggorokan. Salah satu penyebab radang adalah infeksi dari mikroorganisme. Kadang ketika terjadi infeksi pada bronkus, maka dapat juga terjadi infeksi pada bagian tenggorokan (saluran napas bagian atas) oleh karenanya karena masih termasuk satu saluran, maka infeksi juga dapat terjadi pada tenggorokan (daerah faring dan laring). Akibatnya terjadi gejala nyeri tenggorokan. (Baca juga: Cara mengatasi demam pada anak)

Infeksi yang terjadi di daerah tenggorokan akan membuat radang sama dengan yang terjadi di bronkus. Pada saat radang terjadi, akan menyebabkan pelepasan mediator – mediator kimia. Mediator kimia ini akan menstimulasi reseptor – reseptor nyeri di tenggorokan, sehingga terjadi nyeri yang di rasakan di tenggorokan. (Baca juga: Cara mengobati amandel pada anak)

5. Lemas

Lemas terjadi akibat daya tahan tubuh yang menurun akibat infeksi. Selain itu, pada saat infeksi juga terjadi peningkatan metabolisme tubuh. Peningkatan metabolisme terjadi akibat usaha tubuh dalam meregenerasi sel – sel tubuh yang mengalami kerusakan akibat infeksi. Selain itu metabolisme juga meningkat akibat tubuh melakukan mekanisme demam, sehingga menghasilkan panas tubuh yang lebih tinggi. (Baca juga: Gejala meningitis pada bayi)

Penyebab lemas lainnya adalah, ketika anak sedang sakit cenderung untuk malas makan. Sehingga sumber energi untuk tubuuh tidak masuk. Anak – anak yang sakit biasa mengalami kekurangan nafsu makan. Padahal pada saat sakit seharusnya justru sumber nutrisi ditingkatkan untuk mempercepat proses penyembuhan tubuh. (Baca juga: Cara mengatasi kejang demam pada anak)


6. Flu (Beringus)

Flu atau beringus merupakan gejala tambahan atau sekunder yang sering dialami anak jika sedang mengalami masalah gangguan napas. Akibat infeksi pada seluran napas bawah, maka kemungkinan infeksi pada seluran napas bagian atas juga dapat terjadi. Akibat daya tahan tubuh yang menurun, disertai infeksi pada tenggorokan maka dapt memudahkan terjadinya infeksi atau iritasi pada mukosa hidung sehingga terjadinya flu. Iritasi atau radang yang terjadi membuat mukosa hidukan atau memproduksi banyak cairan yang kemudian menumpuk menjadi flu. (Baca juga: Gejala flu singapura pada anak)

7. Nyeri dada

Nyeri dada terjadi mirip dengan nyeri tenggorokan. Infeksi yang menyebabkan peradangan pada bronkus memicu terjadinya pelepasan mediator – mediator kimia. Mediator kimia ini ada berbagai macam. Salah satuya adalah prostaglanding. Prostaglandin merupakan mediator kimia yang memiliki sifat atau peran terhadap stimulasi nyeri. Prostaglandin yang dilepaskan dari sel yang meradang akan menuju reseptor nyeri yang ada disekitar bronkus, sehingga memicu terjadinya rasa nyeri. Namun dikarenakan penjalaran saraf di dada tidak spesifik tertuju pada bronkus, maka rasa nyeri yang dialirkan di dalam penjalaran saraf akan terasa di seluruh bagian dada depan. (Baca juga: Cara mengatasi pilek pada bayi)

, , , , ,
Post Date: Tuesday 08th, November 2016 / 04:14 Oleh :
Kategori : Kesehatan Anak
MUST READ
Perkembangan Janin / Bulan : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Perkembangan Bayi/ Bln : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10,11, 12