Sponsors Link

Bolehkah Ibu Menyusui Minum Obat ?

advertisement

Keadaan tubuh menjadi sakit memang kadang tidak dapat ditebak dan dihindari. Hal tersebut bisa terjadi baik disegala keadaan waktu dan tempat, serta usia dan jenis kelamin. Salah satunya bisa saja terjadi pada Ibu yang sedang dalam masa menyusui bayinya. Keadaan tertentu membuat Ibu sampai memerlukan terapi dengan mengkonsumsi obat. Namun tentu mengkonsumsi obat saat masa menyusui perlu diperhatikan. Meminum obat saat masa menyusui bagi Ibu boleh-boleh saja, namun harus diperhatikan dan dikonsultasikan obatnya. Sebab, beberapa obat juga memiliki efek yang berbahaya terhadap bayinya jika dikonsumsi oleh Ibu selama masa menyusui.

(Baca juga: Obat masuk angin untuk Ibu menyusui)

Mengapa minum obat bagi Ibu menyusui perlu diperhatikan?

Hal yang menjadi perhatian mengapa suatu obat penting diperhatikan pemberian atau penggunaannya pada Ibu hamil adalah bahwa obat tersebut akan terkandung juga didalam ASI. Tetapi tentu banyak orang yang akan berpikir bahwa hal tersebut terlalu berlebihan. Sebab menurut mereka bahwa meminum obat bagi Ibu menyusui adalah sesuatu yang berbeda bagi Ibu hamil yang sedang minum obat. Bagi ibu hamil, minum obat sembarangan, dapat menyebabkan perubahan genetik sel pada (teratogenik) proses pembentukan sistem organ tubuh bayi, sehingga bisa menyebabkan bayi yang lahir menjadi cacat. Sedangkan untuk Ibu menyusui, sudah tidak dalam masa mengandung, sehingga tidak akan terjadi cacat bawaan pada bayi. (Baca juga: Obat flu untuk Ibu menyusui)

Hal diatas tidak selamanya tepat. Sebab bagi Ibu menyusui, kandungan obat di dalam ASI juga bisa mempengaruhi kondisi bayi. Hal yang ditakuti dari Ibu menyusui yang minum obat sembarangan adalah kondisi yang bisa menyebabkan efek meracuni (toksisitas) pada bayi. Dalam hal ini, akibat akumulasi kandungan obat pada ASI yang baik secara cepat maupun secara perlahan mampu menyebabkan kerusakan organ pada bayi seperti organ hati dan ginjal. Hal ini dikarenakan organ-organ tersebut pada bayi belum belum berkembang secara sempurna sehingga belum dapat berfungsi maksimal seperti orang dewasa. (Baca juga: Obat diare pada Ibu menyusui)

Saat Ibu menyusui minum obat

Ketika Ibu menyusui minum obat, maka hampir semua obat akan dapat ditemukan kandungannya didalam ASI, walaupun mungkin jumlahnya tidak begitu banyak atau rendah. Obat yang diminum oleh Ibu menyusui akan masuk kedalam aliran darah dan juga beredar keseluruh tubuh termasuk menuju kelenjar payudara dan kemudian akan ikut terkandung pada hasil produksi ASI dari kelenjar payudara. Umumnya kadar puncak atau tertinggi obat di dalam ASI sekitar 1 sampai 3 jam sesudah meminum obat. (Baca juga: Obat cacing untuk Ibu menyusui)

Hal yang mempengaruhi obat terkandung dalam ASI

  1. Hal yang mempengaruhi kemampuan obat hinga misa masuk ke dalam kandungan ASI adalah sifat obat yang larut lemak. Sebab terdapat obat yang bersifat laru lemak dan tidak larut lemak. Terutama obat larut lemak yang bersifat non-pola dan juga tidak terion. Hal tersebut menyebabkan obat mudah menembus membran alveoli serta masuk ke saluran kapiler susu. (Baca juga: Obat pilek untuk Ibu menyusui)
  2. Ukuran molekul obat yang lebih kecil juga mudah menyebabkan obat tersebut masuk melewati pori membran epitel kelenjar susu (biasanya ukuran molekul obatnya lebih kecil dari 200 dalton). (Baca juga: Makanan untuk memperbanyak ASI)
  3. Ikatan protein plasma juga ternyata mempengaruhi obat untuk masu ke dalam ASI. Umumnya yang obat yang terikat dengan protein plasma tidak dapat menembus membran dan hanya obat yang tidak terikat protein plasma yang bisa menembus membran. (Baca juga: Makanan sehat untuk Ibu menyusui)
  4. Sifat basa dari suatu obat juga mempengaruhi kemampuannya higa bisa menembus masuk ke dalam ASI. Sifat plasma sedikit lebih basa dari ASI, sehingga obat yang sifatnya basa lemah dalam plasma akan lebih mudah menembus membran alveoli dan masuk ke kapiler susu. (Baca juga: Tanda hamil saat menyusui)
Sponsors Link

Hal yang perlu diketahui dan diperhatikan oleh Ibu menyusui

  1. Bila anda mendapat suatu terapi pengobata dengan jumlah obat 5 atau labih, atau jumlah dosis yang dimnum dari sehari lebih dari 12 dosis, maka tanyakan kembali ke dokter atau apotekernya. (Baca juga: Obat migrain untuk Ibu menyusui)
  2. Tanyakan jenis obatnya, apakah termasuk merupakan obat yang memiliki rejimen kompleks dan memungkinkan atau tidaknya terjadi resiko tinggi untuk efek samping yang mungkin serius. (Baca juga: Manfaat klorofil untuk Ibu menyusui)
  3. Konsultasikan tentang penggunaan obat, serta keadaan kesehatan yang diderita, misalnya menderita 3 penyakit yang berbeda atau lebih. (Baca juga: Obat sakit gigi untuk Ibu menyusui)
  4. Memiliki riwayat gangguan kognitif atau tinggal sendiri juga perlu dikonsultasikan pada dokter, untuk mencegah hal yang tidak inginkan bila terjadi efek obat yang beresiko tinggi. (Baca juga: Manfaat keju untuk Ibu menyusui)
  5. Bagi anda yang memiliki kebiasaan tidak patuh dalam mengkonsumsi obat sesuai anjuran dan aturan, maka perlu berkonsultasi kembali dengan dokter. Bisa saja dokter memberikan terapi lain yang lebih mudah. (Baca juga: Manfaat susu kedelai untuk Ibu menyusui)
  6. Jika anda tipikal orang yang sering berpindah-pindah dokter dalam berobat atau telah mengunjungi banyak dokter, maka sebaiknya tetap memberitahukannya keppada dokter tempat anda berobat terakhir. Sebab hal tersebut dapat menjadi pertimbangan terapi dokter dalam memberikan obat serta tindakan. Jangan sampai anda mendapat obat dengan jumlah ganda, padahal jenis obat tersebut sama. (Baca juga: Manfaat apel bagi Ibu menyusui)
ads

Kategori obat berdasarkan tingkat keamanan

Terdapat beberapa kategori pembagian kriteria obat yang mana dikonsumsi dan yang paling bahaya bagi Ibu menyusui. Umumnya kategori telah menjadi dasar bagi dokter dan apoteker dalam memberikan obat kepada Ibu menyusui. Kategori tersebut dibagi menjadi: (Baca juga: Manfaat almond untuk Ibu menyusui)

  • L1 : kategori ini merupakan kategori yang “paling aman” untuk diberikan atau dikonsumsi oleh Ibu menyusui. Contohnya seperti golonga obat asetaminofen, ibuprofen dan loratadin.
  • L2: kategori ini merupakan kategori yang “aman” untuk diberikan atau dikonsumsi oleh Ibu menyusui. Contohnya obat Guaifenesin, cetirizin dan dimenhidrinat.
  • L3 : kategori ini merupakan kategori yang “cukup aman” untuk diberikan atau dikonsumsi oleh Ibu menyusui. Contohnya Lorazepam, Pseudoefedrin dan aspirin.
  • L4 : kategori ini merupakan kategori yang “kemungkinan berbahaya” untuk diberikan atau dikonsumsi oleh Ibu menyusui. Contohnya obat kloramfenikol dan sibutramin.
  • L5 : kategori ini merupakan kategori yang “Kontra indikasi (tidak boleh diberikan)” untuk Ibu menyusui. Contohnya Diklosfamid dan amiodaron.

(Baca juga: Obat ambeien untuk Ibu menyusui)

Prinsip pemakaian serta pemberian obat oleh dokter

  • Sebaiknya penggunaan obat yang tidak begitu diperlukan lebih baik tidak diberikan. Namun apabila obat tersebut memang harus diberikan, maka pelu diperhatikan segi manfaat serta resiko yang mungkin terjadi pad Ibu dan bayinya. Umumnya bila resikonya lebih besa, maka obat tidak dapat diberikan pada Ibu menyusui.
  • Obat telah mendapat penjelasan ilmiah bahwa tidak membahwayakan bagi kesehatan bayi. Hindari penggunaan obat dengan jenis baru, yang penjelasan ilmiahnya masih kurang.
  • Perkembangan organ tubuh bayi yaitu organ hati dan ginjal. Sehingga tidak terjadi penimbunan akumulasi konsentrasi obat dalam tubuh bayi yang didapat dari ASI, sehingga tidak meracuni organ-organ tersebut.
  • Pemilihan cara pemakain suatu obat yang memungkinkan agar efek atau kadar obat yang diterima bayi semakin sedikit.
  • Jika suatu obat tetap dikonsumsi Ibu menyusui sambil tetap memberikan ASI paa bayinya, maka kesehatan bayi perlu untuk terus dipantau.

(Baca juga: Manfaat yoghurt untuk Ibu menyusui)

Tips penggunaan obat bagi Ibu menyusui

  • Sebaiknya jangan dulu memberikan ASI diwaktu keadaan puncak obat di dalam ASI (waktu puncak atau tertinggi obat sekitar 1 sampai 3 jam setelah meminum obat). (Baca juga: Manfaat jahe untuk Ibu menyusui)
  • Jika keadaan Ibu sangat memerlukan terapi dengan meminum obat secara rutin dan mungkin dapat mempengaruhi kesehatan bayi, maka sebaiknya bayi dihentikan atau ditunda sementara pemberian ASInya. (Baca juga: Manfaat glucola untuk Ibu menyusui)
  • Dalam keadaan sedang bebas dari konsumsi obat, maka Ibu sebaiknya memompa dan menyimpan ASInya sebelum kembali pada waktu meminum obat. Dengan memompa ASI untuk kemudian diberikan pada saat bayi ingin menyusu sementara kandungan obat dalam kelenjar susu Ibu masih dalam kadar puncak atau tinggi. (Baca juga: Bahaya diet saat menyusui)
  • Bagi bayi yang sempat mengalami penundaan pemberian ASI dikarenakan Ibu yang sedang mengkonsumsi obat, maka bayi baru dapat kembali menyusu setelah 5 kali waktu paruh obat (waktu yang dibutuhkan ketika kandungan obat tinggal kurang dari setengah dari maksimal didalam darah dikali 5). (Baca juga: Cara diet Ibu menyusui)
advertisement

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , ,
Post Date: Wednesday 21st, December 2016 / 05:36 Oleh :
Kategori : Menyusui