5 Resiko Program Bayi Tabung Yang Berbahaya

Memiliki seorang anak bagi pasangan suami istri merupakan salah satu hal yang paling diidam – idamkan. Anak merupakan anugerah dari sang maha esa yang merupakan penerus keturunan dari keluraga. Namun dalam prosesnya, melahirkan seorang anak melalui proses kehamilan tidak dapat diduga oleh siapapun. Ada sebagian pasangan yang dapat dengan cepat hamil setelah menikah, Ada lagi pasangan yang harus menunggu datangnya tanda tanda kehamilan sampai bertahun – tahun lamanya setelah resmi menikah.

Bagi mereka yang belum dikaruniai anak, melakukan berbagai upaya yang dapat membantu seorang wanita agar hamil merupakan hal yang mungkin sedang dilakukan dan bisa jadi sudah terlalu banyak upaya yang dicoba. Dalam memikirkan cara cepat hamil, banyak macam hal yang bisa dilakukan baik secara medis maupun secara traditional. Untuk pasangan yang sudah sangat lama berusaha namun tidak kunjung hamil, program bayi tabung merupakan salah satu solusi medis yang bisa ditawarkan.

Bayi tabung merupakan sebuah program medis untuk membantu dalam proses pembuahan antara sel telur dari istri dengan sperma dari suami melalui beberapa mekanisme klinis sehingga dapat membantu mendapatkan anak bagi pasangan suami istri. Program bayi tabung yang dilakukan melalu perencanaan yang baik tetap saja memiliki peluang gagal yang lebih besar dibandingkan peluang berhasilnya. Usia merupakan pengaruh terbesar ratio angka keberhasilan ini, wanita dengan usia kurang dari 30 tahun angka keberhasilannya mencapai 35 – 45%.

Dibalik kekurangan dan kelebihan bayi tabung serta ratio keberhasilannya yang lebih tinggi dibandingkan dengan program hamil dengan cara medis lainnya. bayi tabung tetap memiliki resiko. Resiko yang muncul tersebut dapat berdampak pada ibu serta janin dalam program bayi tabung tersebut. Untuk memahaminya lebih jauh, berikut resiko program bayi tabung yang harus ibu dan pasangannya ketahui.

  1. Bayi lahir prematur

Kelahiran prematur merupakan kelahiran seorang bayi yang lebih cepat 3 minggu atau lebih dari waktu kelahiran normal. Pada bayi tabung, kemungkinan bayi untuk lahir prematur lebih besar dibandingkan dengan kehamilan yang biasa. Bayi tabung dapat lahir pada saat kehamilan menginjak usia ke 37 minggu atau 3 minggu sebelum kelahiran normal. Bayi yang lahir prematur ini memiliki resiko yang dapat muncul seperti berat badan yang rendah, dapat mengidap alergi, nafsu makan yang rendah, bayi kuning, serta kesehatan bayi yang kurang baik. Resiko tersebut dapat teratasi bila bayi memperoleh perawatan medis dengan benar.

  1. Kelahiran bayi lebih dari satu

Dalam proses bayi tabung embrio yang dimasukkan kedalam rahim ibu biasanya jumlahnya lebih dari 1, jumlah embrio yang lebih dari satu tersebut bisa jadi kesemuanya berhasil tumbuh dan berkembang. Oleh sebab itu, dapat ditemukan beberapa kasus ibu melahirkan lebih dari 1 bayi dari program bayi tabung yang diikutinya. Kondisi ini tentunya dapat mempengaruhi kesehatan ibu serta tekanan psikis pada ibu yang menjalani program bayi tabung.

  1. Kemandulan pada bayi 

Ada beberapa permasalahan yang menyebabkan pasangan tidak kunjung mendapakan anak. Bisa jadi permasalahan tersebut terjadi pada kondisi sperma pria ataupun kondisi sel telur yang dihasilkan oleh wanita kurang baik dan mengalami gangguan. Kondisi ini apabila pasangan tersebut mengikuti program bayi tabung dapat mewariskan masalah organ reproduksi orang tua kepada anak. Jika bayi yang lahir adalah laki – laki maka bisa jadi spermanya nanti sama dengan orangtua prianya yang bermasalah, namun bila yang lahir adalah perempuan bisa jadi sel telurny nanti sama dengan orangtua wanitanya yang bermasalah. Untuk mengatasi dan lebih memahami secara mendetail, lakukan konsultasi dengan dokter pada program bayi tabung anda.

  1. Kehamilan diluar kandungan

Kasus kehamilan diluar kandugan pada ibu melalui program bayi tabung biasanya terjadi pada calon ibu yang memiliki masalah pada saluran fallapianya sehingga embrio tidak berkembang di rahim. Kondisi ini dapat menyebabkan janin yang berkembang diluar rahim  tersebut tidak mampu bertahan hidup. Demikian dengan ibu, kehamilan diluar kandungan dapat menimbulkan masalah kesehatan baru pada ibu dan harus segera diatasi.

  1. Disabilitas pada bayi yang dilahirkan

Pada bayi yang dilahirkan melalui bayi tabung, resiko disabilitas atau kecacatan bisa didapatkan apabila kondisi sperma yang diinseminasi dengan cara penyuntikan rusak. Dengan rusaknya kondisi sel sperma ini, dapat menyebabkan perkembangan janin mengalami gangguan dan tidak normal. Namun ibu tidak perlu khawatir karena resiko disabilitas ini cukup kecil dengan perkembangan teknologi bayi tabung yang semakin meningkat pesat. Meskipun demikian kewaspadaan harus tetap ditingkatkan terhadap resiko ini.

Berbagai resiko yang muncul pada program bayi tabung tidak perlu menjadi ketakutan yang berlebih bagi pasangan yang akan menjalani program bayi tabung tersebut. Dengan perencanaan dan persiapan yang matang serta penanganan medis yang baik maka resiko – resiko yang ada bisa jadi tidak akan terjadi.