11 Penyebab Kuning pada Bayi Baru Lahir

Kuning pada bayi atau yang juga disebut jaundice terjadi pada bayi yang baru lahir hingga berumur 2 minggu. Kuning pada bayi merupakan sesuatu yang umum terjadi pada bayi cukup bulan maupun kelahiran prematur. Hal ini disebabkan tingginya kadar bilirubin dalam tubuh bayi di atas 5 mg/dL. Bilirubin dihasilkan dari pemecahan sel darah merah dalam tubuh bayi. Hati merupakan organ yang bertugas untuk mengolah bilirubin. Karena organ hati bayi belum berfungsi dengan sempurna, maka terjadi penumpukan bilirubin dalam tubuh. Pada dasarnya penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya seiring dengan semakin bertambahnya asupan ASI. Namun jika terjadi berkepanjangan dan tidak segera diatasi dapat menyebabkan kerusakan otak dan komplikasi kesehatan lainnya. Penyebab kuning pada bayi ada 2 macam, bersifat fisiologis dan patologis.

Kuning Fisiologis

Kuning fisiologis pada bayi hanya bersifat sementara. Umumnya berlangsung 3 – 10 hari, namun bisa lebih lama. Walaupun umum terjadi, jika tidak ditangani dengan benar, dapat mengakibatkan masalah kesehatan serius. Penyebab kuning fisiologis berkenaan dengan belum sempurnanya fungsi organ dalam tubuh bayi dalam merespon sistem metabolisme tubuh. Kuning fisiologis dapat diatasi dengan pemberian ASI yang mencukupi dan penjemuran bayi di pagi hari. Tingginya bilirubin karena faktor fisiologis masih di bawah ambang batas dan biasanya disebabkan oleh hal-hal berikut :

1. Fungsi organ hati pada bayi belum optimal

Organ hati dan usus pada bayi belum berfungsi dengan optimal pada minggu-minggu awal setelah kelahiran sehingga belum bisa mengolah bilirubin dengan baik. Di dalam rahim, organ hati ibulah yang mengambil alih tugas mengolah bilirubin. Ketika bayi lahir, organ hati yang belum berfungsi dengan sempurna mengakibatkan bilirubin yang dihasilkan dari pemecahan sel darah merah tidak bisa terolah dan terbuang. Hal ini terutama terjadi pada kelahiran prematur.

2. Jumlah sel darah merah bayi baru lahir lebih banyak dari orang dewasa

Bilirubin adalah pigmen yang dihasilkan dari pemecahan sel darah merah, yang merupakan proses alami tubuh. Pada kondisi normal, bilirubin yang dihasilkan dikirim ke hati untuk diolah, kemudian dikirim ke usus. Bayi yang baru lahir memiliki sel darah merah yang lebih banyak daripada orang dewasa sehingga sel darah merah tua yang harus dipecahkan juga lenih banyak. Akibatnya produksi bilirubin juga meningkat hingga mencapai 2-3 kali lipat orang dewasa. Terlebih lagi sel-sel darah merah pada bayi mempunyai struktur yang berbeda dan lebih mudah pecah. Banyaknya jumlah bilirubin yang terbentuk, ditambah dengan belum matangnya fungsi enzim di hati yang berfungsi mengolah bilirubin, maka terjadi penumpukan bilirubin dalam tubuh yang menyebabkan timbulnya warna kuning pada tubuh bayi.

3. Usia sel darah merah yang pendek

Usia sel darah merah pada bayi lebih cepat daripada orang dewasa sehingga terjadi pemecahan sel darah merah lebih cepat. Dengan lebih cepatnya sel darah merah pecah, maka bilirubin akan lebih cepat terbentuk. Ditambah dengan belum berfungsinya organ hati secara optimal. Hal ini akhirnya menyebabkan jumlah bilirubin dalam tubuh bayi menjadi tinggi.

4. Breastmilk Jaundice

Breastmilk Jaundice adalah kuning pada bayi yang diakibatkan ketidakcocokan bayi pada ASI. Beberapa pendapat menyatakan bahwa terdapat zat-zat tertentu dalam ASI yang dapat mengurangi kemampuan organ hati untuk memproses bilirubin. Breastmilk Jaundice biasanya terjadi pada hari 10 – 21 dari hari kelahiran, dan kadang berlanjut hingga bayi berumur 2 – 3 bulan. Pada dasarnya Breastmilk Jaundice tidak memerlukan perawatan khusus. Ibu pun tidak perlu menghentikan pemberian ASI. Pemberian ASI sesering dan sebanyak yang dibutuhkan bayi akan segera memulihkan kondisi kuning pada bayi.

5. Asupan ASI yang belum mencukupi

Kurangnya asupan cairan pada bayi menyebabkan kemampuan hati untuk memproses bilirubin menjadi menurun sehingga terjadi penumpukan bilirubin yang tidak terkonjugasi.  Dengan pemberian ASI secara terus menerus maka kuning pada bayi akan segera menghilang. Oleh karenanya ibu juga harus mengkonsumsi berbagai makanan untuk memperbanyak ASI untuk mendukung pemenuhan kebutuhan bayi.

6. Adanya memar di bagian tubuh bayi

Bayi dapat mengalami benturan pada saat proses kelahiran sehingga muncul memar pada kulit. Tubuh akan menghancurkan darah beku penyebab memar tersebut sehingga turut berperan dalam peningkatan jumlah bilirubin dalam tubuh.

Kuning Patologis

Penyebab kuning pada bayi yang bersifat patologis biasanya terjadi di bawah 24 jam atau hari ke-14 setelah kelahirannya. Kuning patologis pada bayi biasanya diikuti dengan demam, kemampuan mengisap ASI lemah, muntah, lesu, banyak tidur, kulit makin kuning, rewel, dan berat badan bayi tidak mengalami peningkatan. Jika mengalami ini bayi harus segera ditangani oleh dokter untuk mencegah masuknya bilirubin berlebih ke dalam otak yang dapat membuat kerusakan otak yang permanen. Beberapa penyebab kuning pada bayi yang bersifat patologis di antaranya adalah sebagaimana berikut :

1. Ibu menderita diabetes saat hamil

Bila ibu menderita diabetes saat hamil maka salah satu kemungkinannya adalah bayi akan mengalami kuning. Bisa karena kelahirannya yang prematur atau karena adanya peningkatan jumlah sel darah merah. Hal ini dapat diatasi dengan penanganan medis yang tepat oleh dokter. (baca juga : Bahaya Diabetes saat Hamil)

2. Ketidaksesuaian golongan darah antara ibu dan bayi

Kuning pada bayi karena ketidaksesuaian golongan darah antara ibu dan bayi disebut kuning yang bersifat hemolitik. Biasanya muncul sebelum bayi berumur 3 hari. Sering terjadi pada ibu dengan golongan darah O, sedangkan bayi bergolongan darah A atau B, atau sebaliknya. Hal ini juga terjadi pada bayi yang memiliki rhesus berbeda dengan ibunya, dimana bayi memiliki rhesus positif dan ibu memiliki rhesus negatif, atau sebaliknya. Perbedaan golongan darah ini mengakibatkan tubuh ibu membuat antibodi yang menyerang sel darah merah bayi, sehingga sel darah merah bayi akan pecah dan menghasilkan bilirubin dalam jumlah besar. Untuk mencegah dan mengatasi masalah tersebut dan masalah kesehatan lain sedini mungkin, ibu bisa melakukan tes darah saat hamil.

3. Kerusakan hati

Dalam kasus ini bilirubin tidak dapat dikonjugasi oleh hati karena tidak berfungsinya hati akibat infeksi virus, misal hepatitis, atau rusaknya sel-sel hati karena kanker atau sirosis. Atau organ hati memang sudah mengalami kerusakan sejak dalam kandungan.

4. Kekurangan enzim G6PD

Beberapa bayi memiliki kelainan bawaan berupa kelainan enzim G6PD. Enzim G6PD berfungi untuk mencegah rusaknya eritrosit atau sel-sel darah merah. Jika bayi kekurangan enzim ini dalam tubuhnya maka jumlah bilirubin dalam tubuhnya juga akan meningkat. Kekurangan enzim ini dapat dicegah dengan asupan gizi yang mencukupi saat hamil. (baca juga : Gizi Ibu Hamil Berdasarkan Trimester Kehamilan)

5. Sumbatan pada sistem empedu

Bilirubin yang telah di olah di hati akan disalurkan ke sistem empedu. Di sistem empedu, bilirubin diolah menjadi cairan empedu, kemudian disalurkan ke usus halus untuk membantu mencerna makanan berlemak. Namun pada beberapa kasus, terjadi sumbatan pada sistem empedu sehingga bilirubin terkonjgasi tidak dapat dikirim ke usus halus, melainkan masuk kembali ke aliran darah.

Kuning pada bayi merupakan sesuatu yang biasa terjadi pada bayi yang baru lahir, karena belum berfungsinya ginjal secara sempurna. Bayi prematur memiliki kemungkinan paling besar terkena kuning. Penyebab kuning pada bayi ada 2 macam, bersifat fisiologis dan bersifat patologis. Kuning pada bayi yang bersifat fisiologis biasanya akan hilang sendiri setelah bayi berumur 2 minggu dengan pemberian ASI secara terus menerus dan penjemuran bayi di bawah sinar matahari pagi. Sedangkan kuning yang bersifat patologis memerlukan penanganan dokter untuk mendapatkan perawatan dan terapi yang tepat.