Sponsors Link

Bayi Tabung

Bayi tabung merupakan salah satu solusi bagi pasangan yang belum dikaruniai keturunan. Keturunan merupakan hal yang dinanti-nantikan oleh pasangan yang telah menikah. Keturunan merupakan generasi penerus keluarga dan sandaran bagi orangtua di kala tua nanti. Bisa kita bayangkan, ketika kita telah menjadi tua dan tidak memiliki keturunan, siapa yang akan menjaga dan merawat kita kelak. Saat tua, tentu tenaga dan pikiran tidak seperti masih muda dulu. Keturunan kita kelak yang bisa mendoakan kedua orangtuanya ketika telah tiada. Jika tidak memiliki keturunan, siapa yang mau menjaga, merawat dan mendoakan kita kelak ketika kita sudah tua atau meninggal.

Alasan itu yang menjadikan keturunan penting bagi keluarga yang telah menikah. Banyak orang yang sudah menikah namun bertahun-tahun tidak diberikan keturunan, berbagai macam pengobatan medis maupun herbal telah dicoba namun hasilnya tetap nihil. Jika pengobatan medis maupun herbal tidak bisa membuahkan hasil, jalan terakhir yang bisa digunakan oleh pasangan adalah inseminasi buatan atau bayi tabung.

Proses

Masih banyak orang yang awam dengan proses bayi tabung, karena memakai tabung bukan berarti prosesnya menggunakan tabung drum atau tabung yang lainnya. Pengetahuan masyarakat tentang proses bayi tabung juga masih sedikit, pengetahuan yang sedikit itu banyak masyarakat yang belum dikaruniai keturunan enggan untuk melakukan proses bayi tabung tersebut. Berikut ini berbagai macam prose yang harus dilalui ketika melakukan bayi tabung :

1. Melakukan Seleksi Pasien

Pihak rumah sakit akan mengadakan penyeleksian pasien apakah pasien tersebut pantas untuk mengikuti program bayi tabung. Jika memang layak, maka rumah sakit akan melakukan proses yang selanjutnya.

2. Stimulasi

Langkah selanjutnya adalah pihak rumah sakit akan melakukan stimulasi. Stimulasi tersebut merupakan perangsangan yang akan dilakukan di indung telur atau ovarium. Dalam proses kehamilan normal,  hanya perlu satu buah sel telur saja agar bisa membentuk embrio. Namun dalam bayi tabung dibutuhkan lebih dari satu sel telur agar bisa terjadi pembentukan embrio. Stimulasi ini untuk mendapatkan sel telur lebih dari satu. Pihak rumah sakit akan menyuntikan hormon ke dalam tubuh ibu agar bisa memproduksi banyak sel telur.

Setelah suntikan hormon tersebut, proses selanjutnya rumah sakit akan melakukan inseminasi sperma. Inseminasi itu berupa pengumpulan dan memilih sperma, sehingga hanya sperma dengan kualitas baguslah yang akan tersisa. Sperma dengan kualitas bagus dan sperma yang kuat akan diletakkan ke dalam rahim sang ibu menggunakan alat bernama kateter.

3. Memantau Petumbuhan Folikel Telur

Setelah ibu diberikan suntikan hormon, pihak medis akan melakukan pemantauan terhadap folikel. Folikel itu adalah cairan yang berisi dengan sel telur ibu, folikel itu ada di indung telur. Cara melihatnya menggunakan alat bantu dengan manfaat USG kehamilan / Ultrasonografi. Tujuan pemantauan itu adalah memastikan jika sel telur memiliki kematangan yang cukup untuk dipanen.

4. Pematangan Sel Telur

Jika sel telur belum cukup matang, dokter akan menyuntikkan obat yang berfungsi untuk mematangkan sel telur dan membuat sel telur bisa dipanen.

5. Mengambil Sel Telur

Jika sel telur sudah matang, sel telur itu akan diambil dari indung telur. Setelah mengambil sel telur tersebut pihak medis akan menaruhnya di laboratorium.

6. Mengambil Sperma Suami

Pengambilan sperma ini bisa dilakukan dengan mengambil sperma yang dikeluarkan oleh suami. Tidak akan menjadi masalah jika suami melakukan onani kemudian spermanya diambil. Namun jika tidak begitu, pihak medis bisa mengambil sperma langsung dari buah zakarnya dengan tindakan operasi.

7. Pembuahan

Jika sel telur dan sel sperma sudah didapatkan, langkah selanjutnya adalah pembuahan atau fertilisasi. Pembuahan yang dilakukan itu diharapkan bisa membentuk sebuah embrio.

8. Transfer Embrio

Jika pembuahan sudah bisa menghasilkan embrio, pihak medis akan melakukan proses transfer embrio ke dalam rahim sang ibu agar kehamilan bisa terjadi. Dokter harus memastikan bahwa embrio harus benar-benar terbentuk, jika embrio belum terbentuk tanda kehamilan akan sulit terjadi.

9. Fase Luteal

Fase luteal adalah fase dimana embrio yang telah ditransfer di dalam rahim harus dipertahankan agar tidak keguguran. Dokter harus mempertahankan embrio tersebut agar tetap berada di dinding rahim. Dokter akan memberikan obat penguat agar terjadi kehamilan di dinding rahim ibu. Jika embrio gugur sebelum terjadi kehamilan, bayi tabung bisa gagal.

10. Pembekuan Embrio

Jika embrio terdapat jumlah lebih, embrio itu bisa disimpan kemudian dibekukan. Tujuannya adalah jika embrio yang telah disuntikkan gagal untuk dipertahankan, masih ada cadangan embrio yang telah dibekukan tersebut.

Metode Penanganan

Di Indonesia, bayi tabung tidak hanya bisa dilakukan dengan satu cara saja. Namun ada berbagai macam cara yang bisa digunakan pihak medis untuk melakukan bayi tabung. Metode medis untuk melakukan bayi tabung itu juga belum banyak diketahui masyarakat. Berikut ini berbagai metode yang bisa digunakan untuk melakukan bayi tabung :

1. Siklus Natural

Cara ini merupakan cara alami yang tidak menggunakan obat-obatan dalam perangsangan sel telur. Sel telur secara alami dibiarkan berkembang dengan proses alami. Saat menggunakan cara ini, dokter akan menggunakan obat berupa tablet atau suntikan. Tablet atau suntikan itu sangat bermanfaat dalam merangsang ovarium agar ovariumnya tidak terlalu agresif. Ketika sel telur matang dengan sendirinya, sel telur itu akan diambil dan bisa dilakukanm pembuahan. Pembuahan yang menghasilkan embrio akan dipindahkan ke dalam rahim istri. Proses ini membutukan waktu sekitar 2 sampai dengan 3 hari.

2. Maturation

Metode ini sangat popular dalam beberapa tahun terakhir. Cara ini juga tidak menggunakan suntikan hormon. Sebenarnya penggunakan suntikan hormon sangat tidak dianjurkan, apalagi jika terlalu sering menggunakannya. Keseimbangan hormon bisa terganggu. Oleh sebab itulah dalam cara melakukan bayi tabung ini tidak perlu suntikan hormon. Cara melakukan bayi tabung adalah sebagai berikut ini :

  • Mengambil sel telur muda kemudian dimatangkan terlebih dahulu di dalam laboratorium selama dua hari.
  • Sel telur yang telah dimatangkan kemudian akan dibuahi menjadi embrio.
  • Embrio yang telah jadi akan dimasukkan ke dalam rahim sang istri.

3. Penyimpanan Beku Sperma/ Embrio

Cara yang ketiga adalah dengan penyimpanan beku sperma atau embrio. Caranya dengan melakukan perangsangan hormon menggunakan obat dan suntikan hormon. Stimulasi hormon itu diharapkan bisa menghasilkan 9 sampai dengan 10 buah embrio. Untuk sekali melakukan proses bayi tabung dengan cara ini hanya membutuhkan empat embrio saja. Embrio yang berlebihan itu bisa disimpan di bank embrio. Suhu di bank embrio diatur sedemikian rupa agar bisa mempertahankan kehidupan dan kualitas embrio. Embrio yang tidak disimpan sebagaimana mestinya bisa mati dan menurun kualitasnya.

Keuntungan cara ini adalah ketika embrio yang disuntikkan gagal dalam menciptakan kehamilan, masih ada cadangan embrio yang lain di bank embrio tersebut tanpa melakukan proses bayi tabung sejak awal. Tidak hanya embrio saja yang disimpan di bank embrio, namun sperma pun bisa disimpan di dalam bank tersebut. Namun untuk penyimpanan embrio dan sperma, anda akan dikenai biaya tambahan. Masa berlaku penyimpanannya pun hanya dibatasi 2 sampai 3 tahun saja, lewat masa penyimpanan itu kualitas embrio dan juga sperma akan menurun.

4. ICSI ( Intracytoplasmic Sperm Injection )

Cara ICSI merupakan cara terbaru dalam melakukan bayi tabung. Cara ini merupakan cara paling baru untuk menangani masalah ketidaksuburan pada pria. Masalah pria yang ditangani dengan cara ini adalah pria dengan sperma yang kurang, sperma lemah dan juga pria yang tidak memiliki sperma sama sekali. Saat menggunakan cara ini, dibutuhkan sebanyak 5.000 sampai dengan 10.000 sel sperma untuk bisa membuahi sel telur. Penyuntikannya menggunakan mikromanipulator. Cara ini membutuhkan waktu empat minggu dari proses awal sampai dengan kehamilan.

Estimasi Biaya Bayi Tabung

Alasan banyak masyarakat yang tidak bisa melakukan proses bayi tabung adalah karena masalah biaya yang mahal dan tidak murah. Selain itu persepsi masyarakat itu sendiri yang membuat banyak orang yang ragu untuk melakukan proses bayi tabung. Banyak masyarakat yang tidak ingin mengeluarkan banyak uang namun hasilnya kurang efektif untuk menciptakan kehamilan. Berikut ini estimasi biaya yang mungkin dikeluarkan ketika melakukan proses bayi tabung :

  • Siklus Natural

Cara siklus natural yang digunakan dalam proses bayi tabung peluangnya hanya sekitar 15 persen saja. Peluang itu cenderung kecil sebab dalam proses itu hanya akan menghasilkan dua sel telur saja. Untuk biaya siklus natural memiliki harga termurah dibandingkan dengan cara yang lainnya. Dengan harga 25 juta dan dengan waktu paling lama 5 minggu, siklus natural bisa dilakukan. Cara ini akan menyeleksi pasien dengan usia 25 sampai dengan 30 tahun. Usia lebih dari 30 tahun tidak akan lolos seleksi sebab sudah melebihi batas umur yang ditentukan.

  • Maturation

Cara maturation bisa dilakukan dengan waktu selama 4 minggu. Untuk melakukan cara maturation, pasien harus mengeluarkan uang kurang lebih 40 juta rupiah. Teknik ini lebih efektif dibandingkan dengan cara siklus natural. Banyak pasangan yang mendapatkan keturunan setelah melakukan bayi tabung dengan cara ini. Cara ini juga merupakan cara yang paling populer dan banyak dilakukan.

  • Simpan Beku/ Emrbio

Ketika menggunakan cara ini, sel telur yang dhasilkan sebanyak 10 embrio saja. Biaya untuk melakukan cara ini kurang lebih skitar 50 juta. Untuk melakukan penyimpanan, pasien akan dikenakan biaya tambahan. Biaya penyimpanan itu sekitar 3 juta rupiah untuk penyimpanan embrio selama dua tahun, sedangkan untuk tiga tahun pasien harus merogoh kocek sekitar 3 juta rupiah. Biaya untuk menggunakan embrio itu kembali tanpa melakukan proses dari awal pasien harus merogoh kocek 9 juta rupiah.

  • ICSI

Untuk melakukan bayi tabung dengan cara ini, pasien harus merogoh kocek sebanyak 60 juta rupiah. Proses ICSI membutuhkan waktu sekitar 4 minggu. Namun banyak hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan teknik ini. Cara ini akan memandang banyak faktor, terutama faktor si perempuan itu sendiri. Agar meraih keberhasilan berikut ini faktor yang harus diperhatikan :

  • Usia wanita 35 tahun peluangnya adalah 40 persen.
  • Usia wanita 35 sampai dengan 40 tahun peluangnya 25 persen.
  • Usia di atas 40 tahun peluangnya 15 persen.

Agar tidak membuang biaya, bagi anda yang memiliki dana berlebih, belum diberikan keturunan, telah lama menikah dan berusia kurang dari 35 tahun sebaiknya jangan buang waktu anda. Segeralah lakukan program bayi tabung agar angka keberhasilannya semakin banyak.

Prosedur

Bayi tabung tidak bisa dilakukan begitu saja namun harus memperhatikan prosedur yang ada. Prosedur itu harus dipenuhi sebelum bayi tabung dilakukan. Di Indonesia, proses bayi tabung tentunya harus dilakukan oleh pasangan yang legal bukan illegal. Di Indonesia tidak bisa melakukan proses bayi tabung dengan cara donor sperma. Donor sperma merupakan sperma yang bukan berasal dari suami yang syah sehingga di Indonesia donor sperma masih menjadi pertentangan. Indonesia menganut budaya timur yang kental, sedangkan di negara barat donor sperma banyak dilakukan oleh wanita yang mengalami masalah kesehatan. Berikut ini prosedur yang harus diketahui oleh pasien bayi tabung :

  • Persiapan Mental

Pasien bayi tabung harus menyiapkan mental. Persiapan mental itu akan dibentuk dan dipupuk melalui bimbingan konseling oleh pakarnya. Setiap rumah sakit akan menyediakan pakar bimbingan untuk memberikan kekuatan mental dan persiapan mental bagi pasien program bayi tabung. Yang akan ditekankan oleh pakar tersebut adalah pasien harus menyiapkan dirinya jika program bayi tabung yang dilakukan tersebut sukses ataupun sebaliknya. Jika bimbingan konseling tidak dilakukan, pasien ditakutkan akan mengalami depresi dan stress yang berlebihan yang merupakan aktivitas berbahaya

  • Pasangan Syah

Prosedur melakukan bayi tabung selanjutnya adalah pasien bayi tabung adalah pasangan yang syah dan legal. Bayi tabung tidak bisa dilaksanakan jika prosedur itu tidak dipenuhi oleh pasien. Medis akan meminta pasien untuk menunjukkan bukti berupa surat nikah.

  • Menikah Setahun Lebih

Pasangan yang akan melakukan bayi tabung adalah pasangan yang sudah menikah selama 12 bulan atau lebih dan memiliki frekuensi hubungan seksual yang rutin namun, belum mencapai kehamilan. Pasangan yang menikah, belum ada selama 12 bulan dan ingin melakukan bayi tabung biasanya pihak medis akan menolak atau memberi tenggang waktu agar usia pernikahan lebih dari 12 bulan. Siapa tahu jika ditunggu dalam kurun waktu tersebut kehamilan akan terjadi.

  • Usia

Prosedur melakukan bayi tabung adalah dengan melihat usia sang ibu. Kehamilan akan sulit terjadi jika sang ibu memiliki usia yang matang atau terlalu tua. Dikhawatirkan jika usia terlalu tua, ibu akan mendekati masa menopause. Jika sudah menopause peluang untuk hamil akan semakin kecil. Ibu harus melakukan tes kesuburan, jika ibu tergolong subur program bayi tabung bisa dilakukan. Usia yang baik untuk melakukan proses bayi tabung antara 30 tahun sampai dengan 35 tahun, sebab hanya di usia tersebutlah proses bayi tabung ideal untuk dilakukan. Persentase keberhasilan program bayi tabung untuk usia wanita 30 sampai dengan 35 tahun cukup tinggi sehingga peluang kehamilan bisa diraih.

  • Menyiapkan Biaya

Ibu hamil sebaiknya menyiapkan biaya sejak kehamilan, menyiapkan biaya persalinan dan biaya hidup untuk anaknya kelak.

Faktor Resiko

Apapun yang dilakukan tentu memiliki risiko sendiri-sendiri begitu pula ketika melakukan proses bayi tabung tentu juga akan memiliki risiko. Sebaiknya pasangan yang akan melakukan bayi tabung mengetahui berbagai macam risiko yang akan dialaminya saat melakukan proses bayi tabung. Berikut ini berbagai macam risiko yang akan dialami oleh pasangan yang melakukan bayi tabung:

  • Bayi Lahir Prematur

Bayi yang dihasilkan dari bayi tabung akan lahir secara prematur. Bayi yang dilahirkan di dunia ini minimal pada usia 38 minggu sampai dengan 40 minggu sedangkan ibu hamil yang hamil dengan bayi tabung bisa lahir dengan usia 37 minggu.

  • Ovarian Hyper Stimulation Syndrome ( OHSS )

OHSS bisa dialami oleh ibu hamil akibat efek obat-obatan yang dikonsumsi oleh ibu saat proses bayi tabung dilakukan. Obat-obatan akan diberikan saat dilakukan stimulasi indung telur sang ibu.

  • Infeksi

Ibu hamil rentan terkena infeksi, infeksi itu bisa terjadi saat medis melakukan proses pengumpulan sel telur.

  • Kerusakan Struktur Ovarium

Karena pemberian anestesi yang berlebihan, ibu akan terkena kerusakan struktur ovarium. Tidak hanya itu saja, kerusakan struktur usus dan kandung kemih pun bisa terjadi akibat anestesi yang berlebihan.

  • Gejala Menopause

Ibu yang melakukan proses bayi tabung akan mengalami gejala menopause. Namun tidak semua risiko itu bisa menyerang wanita. Wanita yang akan mengalami gejala itu adalah wanita dengan usia di atas 35 tahun. Penyebab timbulnya gejala tersebut adalah sel telur yang dibuahi menempel di dinding uterus dan ibu mengalami perubahan hormon.

  • Ketidaknyamanan

Ibu yang melakukan proses bayi tabung akan mengalami banyak ketidaknyaman. Ketidaknyamanan itu sering menganggu aktivitas dan kehidupan ibu. Beberapa ketidaknyamanan itu adalah sebagai berikut ini :

  • Air urin yang panas, sehingga saat berkemih ibu akan merasakan rasa panas di ureternya
  • Sakit kepala
  • Payudara menjadi keras
  • Terkena kram di bagian bawah perut
  • Suasana hati yang tidak menentu
  • Mood yang berubah-ubah
  • Penglihatan Kabur

Efek obat-obatan yang diberikan saat melakukan proses bayi tabung bisa menimbulkan gangguan penglihatan pada ibu. Pandangan ibu akan kabur serta tidak fokus.

  • Tubuh Memar

Ibu yang melakukan bayi tabung akan memiliki tubuh yang memar, luka atau memar itu bisa timbul akibat suntikan yang dilakukan saat proses bayi tabung tersebut. Pengambilan sel telur, penyuntikan embrio di dalam rahim sang ibu, suntikan hormon, pemberian obat-obatan dan masih banyak lagi lainnya.

  • Kematian Bayi

Risiko dari melakukan bayi tabung adalah bayi akan meninggal 28 hari setelah dilahirkan. Hal itu dikarenakan bayi tabung memiliki sistem imun yang rendah.

  • Berat Badan Bayi Rendah

Bayi yang dilahirkan ke dunia akibat proses bayi tabung akan memiliki berat badan yang rendah. Penelitian yang dilakukan di Australia menunjukkan fakta bahwa bayi dengan proses kehamilan normal dan juga proses bayi tabung memiliki perbedaan berat badan yang signifikan.

  • Penumpukan Cairan Di Rongga Perut

Risiko itu bisa terjadi akibat stimulasi yang dilakukan saat pelaksanaan program bayi tabung. Stimulasi yang dilakukan di indung telur dan berlebihan bisa membuat rongga perut banyak cairan. Akibatnya adalah ibu akan merasakan berbagai keluhan misalnya saja adalah merasakan kembung, mual-mual, muntah, tidak berselera untuk makan.

  • Pendarahan

Ibu akan mengalami pendarahan saat melakukan proses bayi tabung. Pendarahan itu akan terjadi ketika dilakukan pengambilan sel telur di dalam ovarium sang ibu.

  • Bahaya Jarum Suntik

Risiko yang harus diperhatikan adalah bahaya dari jarum suntik tersebut. Setiap proses bayi tabung yang dilakukan akan menggunakan jarum suntik. Jarum suntik itu akan berisiko terkena kandung kemih, usus bahkan menembus pembuluh darah. Minta petugas medis ketika menyuntik menggunakan USG agar jarum suntik tidak meleset dari sasaran.

  • Kehamilan Kembar

Risiko lainnya yang harus diwaspadai oleh ibu adalah terjadinya ciri-ciri hamil kembar. Ibu harus menyiapkan dana yang berlebih jika dirinya mengalami kehamilan kembar. Tidak tanggung-tanggung, banyak bayi tabung yang menghasilkan bayi kembar lebih dari dua. Penyebabnya adalah banyaknya embrio yang dimasukkan ke dalam rahim ibu menghasilkan kehamilan bayi kembar. Jika embrio yang dimasukkan ke dalam rahim ibu sebanyak 3 dan semua embrio menghasilkan kehamilan, maka ibu akan memiliki kehamilan kembar 3. Namun ini bisa menjadi cara hamil anak kembar bagi yang menginginkannya

  • Biaya Besar

Risiko lainnya adalah biaya yang dikeluarkan cenderung besar. Biaya mulai dari proses bayi tabung sampai dengan membiayai bayi tersebut sampai besar membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

  • Kegagalan

Risiko lainnya yang mungkin terjadi adalah adanya kegagalan dalam melakukan bayi tabung. Hal itu bisa terjadi jika embrio luruh dari dinding rahim dan tidak berhasil menempel di dinding rahim. Jika itu terjadi penyebab keguugran pun bisa terjadi.

  • Kelelahan Fisik

Banyaknya proses yang harus dilalui oleh pasangan bisa menimbulkan kelelahan fisik. Pasangan merasa lelah untuk melalui dan melewati semua proses medis yang ada di rumah sakit.

  • Stress Emosional

Tidak hanya fisik saja yang lelah, pasangan juga akan merasakan stress emosional terutama dari pihak ibu. Ibu merasa stress karena ada dua hal yang dia pikirkan, yaitu harapan dan kegagalan. Ibu takut jika program bayi tabung yang dilakukannya mengalami kegagalan dan biaya yang dikeluarkan cenderung besar.

Tingkat Keberhasilan Bayi Tabung

Angka keberhasilan dalam melakukan bayi tabung cukup beragam. Berikut ini hal-hal yang berpengaruh terhadap angka keberhasilan bayi tabung:

Terapi dan teknik – Terapi yang digunakan dalam melakukan bayi tabung tersebut. Terapi tersebut juga berhubungan dengan teknik atau cara pembuatan bayi tabung yang dipilih pasangan. Semakin banyak embrio yang dimasukkan ke dalam rahim semakin besar peluangnya untuk hamil. Semakin sedikit embrio yang ditanam di dalam rahim peluang kehamilan semakin kecil.

Kesehatan pasangan – Pasangan yang memiliki kesehatan yang bagus dan performa yang bagus bisa mencapai keberhasilan dalam melakukan bayi tabung.

Kesuburan pasangan – Salah satu hal yang bermanfaat dalam keberhasilan bayi tabung adalah kesuburan pasangan itu sendiri. Sel telur yang kurang berkualitas dan sperma yang berkualitas bisa meningkatkan peluang kehamilan pasangan yang sedang melakukan bayi tabung.

Usia – Yang tidak boleh dilupakan adalah faktor usia dari ibu. Jika wanita berusia kurang dari 40 tahun peluang keberhasilan bayi tabung cenderung banyak. Untuk wanita di atas usia 40 tahun risiko untuk hamil setelah melakukan proses bayi tabung cenderung kecil. Alasannya adalah wanita dengan usia di atas 40 tahun cenderung mendekati proses menopause.

Menstruasi – Program bayi tabung bisa dilakukan oleh wanita yang masih mengalami mesntruasi teratur setiap bulan. Wanita yang sudah tidak subur atau mengalami menopause peluang untuk hamilnya sangat sulit sebab sel telur sudah tidak ada lagi.

Persiapan mental –  Ibu yang sedang menjalani bayi tabung harus siap mental dan fisiknya. Jangan sampai ibu mengalami gangguan kehamilan seperti stress dan juga kelelahan fisik maupun psikis.

Kebugaran tubuh – Tubuh yang bugar merupakan keberhasilan dari bayi tabung, tubuh yang bugar akan mendorong ibu untuk bisa menjalani setiap proses bayi tabung tersebut. Jika tubuh tidak bugar akibatnya adalah ibu akan terkena kelelahan fisik. Kelelahan fisik bisa membuat stamina ibu tidak stabil dan merasakan kelelahan yang sangat saat menjalani proses bayi tabung. Cara menjaga kehamilan agar tetap sehat perlu dilakukan sebelum ibu menjalani proses bayi tabung.

Sponsors Link

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!