Dyspraxia Pada Balita : Pengertian – Penyebab – Gejala – Perawatan

Melihat perkembangan motorik halus anak yang tumbuh dengan baik pasti sangat melegakan orang tua. Fase-fase terpenting saat anak mulai berguling, merangkak, berjalan kemudian berlari menunjukkan hal yang normal atau tidak normal. Namun ketika anak menderita sebuah kelainan maka orang tua pasti sangat cemas. Salah satu kelainan yang terjadi adalah seperti dsypraxia. Apa itu? Berikut akan dijelaskan mengenai dyspraxia pada balita, seperti pengertian, penyebab, gejala dan perawatan.

Pengertian Dyspraxia

Dyspraxia adalah sebuah kondisi yang akan membuat anak tidak memiliki gerakan tubuh yang baik dan juga sistem koordinasi yang cukup lemah. Akibatnya fisik anak akan terlihat berbeda dibandingkan anak yang lebih sehat. Dalam artian ketika anak memegang benda maka mudah jatuh, saat anak berjalan juga mudah jatuh. Anak akan terlihat ceroboh. Gangguan pada balita ini paling sering terlihat pada anak laki-laki. Namun gangguan ini tidak akan mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. tanda ini biasanya muncul sejak kecil dan akan lebih terlihat saat sudah berusia lebih dari 5 tahun. Jadi perhatikan juga jika ada tanda penyebab anak terlambat jalan.

Penyebab

  1. Gangguan pada saraf dan otak. Dyspraxia bisa terjadi karena adanya masalah gangguan pada sistem syaraf dan otak. Hal ini bisa terjadi karena adanya gangguan yang tidak bisa dihindari karena memang sistem yang normal tidak berjalan. Pengaruhnya bisa membuat sistem syaraf dan otak anak menjadi tidak normal. Hal ini juga bisa berkaitan dengan penyebab bayi lahir cacat.
  2. Kelahiran prematur bisa menjadi salah satu penyebab yang paling sering terjadi. Ketika bayi lahir belum waktunya maka akan memicu sistem syaraf dan otak berkembang kurang sempurna.
  3. Riwayat keluarga. Keluarga dengan masalah yang sama bisa memicu kondisi ini. Tes selama kehamilan bisa diketahui untuk melihat status genetik pada janin.
  4. Bayi lahir dengan berat badan rendah. Bayi yang tidak tumbuh cukup baik di dalam rahim juga bisa mengalami masalah ini. Ini kondisi rentan yang bisa dipicu oleh kesehatan kehamilan yang buruk dan kurang nutrisi tertentu selama hamil.
  5. Efek obat dan alkohol sehala hamil. Ibu hamil yang mengonsumsi alkohol dan obat terlarang bisa mengalami kondisi yang sama. Hal ini bisa disebabkan oleh gangguan dari zat-zat kimia yang merusak janin selama masa pertumbuhan.

Gejala

  1. Perkembangan yang lambat. Saat masih bayi makan akan terlihat sulit untuk duduk, merangkak atau berjalan. Meskipun sudah mencoba cara melatih anak merangkaktapi juga tidak efektif.
  2. Gerakan tubuh tidak biasa. Bayi dan anak akan melakukan berbagai gerakan tubuh yang tidak biasa selama berkembang.
  3. Sulit bermain. Bayi dan anak tidak bisa bermain dengan baik terutama jika harus menggunakan koordinasi tubuh seperti menyusun permainan balok.
  4. Anak tidak bisa menggunakan peralatan makan dengan tangan mereka sendiri.
  5. Selalu sering menjatuhkan barang.
  6. Sering terbentur atau terpeleset saat berjalan.
  7. Tidak bisa mengikuti instruksi orang dewasa dan sulit berkonsentrasi.
  8. Tidak bisa belajar sendiri dan selalu meminta bantuan orang lain.
  9. Tingkah laku anak terlihat aneh.
  10. Anak terlihat tidak percaya diri.

Perawatan

  1. Terapi okupasi. Terapi ini dilakukan dengan cara membuat anak mandiri saat melakukan berbagai kegiatan sehari-hari.
  2. Terapi perilaku kognitif. Anak harus mendapatkan latihan untuk menyelesaikan masalah ketika mereka sulit melakukan tugas.
  3. Terapi kebiasaan. Orang tua bisa menerapkan kebiasaan yang bisa membuat anak menjalani kebiasaan hidup dengan baik misalnya makan, minum, pergi ke toilet dan memakai baju sendiri.

Itulah kumpulan informasi mengenai dyspraxia pada balita, seperti pengertian, penyebab, gejala dan perawatan. Semua orang tua harus waspada dengan kondisi ini karena terkadang gejalanya muncul saat sudah berusia lebih tua atau sudah masuk sekolah.