Kehamilan di Atas 45 Tahun – Resiko dan Tips Perawatan

Bagi sebagian besar pasangan yang telah menikah, kehadiran buah hati dalam keluarganya merupakan sesuatu yang sangat didambakan. Namun, ada beberapa pasangan yang memilih untuk menunda untuk memiliki anak, padahal usia si wanita berada pada usia yang tepat untuk hamil. Ada beberapa orang yang belum mengetahui usia ideal untuk hamil. Sebagian memang sudah tahu tetapi tidak mengetahui alasannya.

Usia Hamil yang Ideal

Usia 21 sampai dengan 35 tahun dianggap sebagai usia ideal untuk mengandung. Rentang usia tersebut dianggap rentang usia yang paling ideal karena menurut penelitian pada usia tersebut resiko yang timbul saat hamil sangat rendah yakni 15%. Selain itu, dipandang dari segi kematangan, wanita pada rentang usia tersebut dianggap telah matang secara reproduksi, mental, dan sosial. Menikah pada usia di bawah rentang usia minimal yang telah disebutkan atau melebihi usia pada rentang waktu maksimal bisa menimbulkan berbagai resiko yang mungkin bisa timbul ketika hamil. Pada rentang usia tersebut, usia 24 tahun merupakan usia yang dianggap paling ideal untuk hamil. Pada usia 24 tahun, wanita berada pada puncak kesuburannya.

Bahaya hamil di usia muda di bawah usia 21 tahun dianggap sangat beresiko. Pada usia tersebut, seorang wanita dianggap belum memiliki kematangan secara reproduksi, mental, dan sosial. Kondisi sel telur pada usia tersebut belum sempurna, sehingga bisa berakibat pada buruknya perkembangan janin. Selain itu, secara mental biasanya wanita pada usia tersebut masih labih, belum memiliki kesiapan yang mutlak untuk memiliki seorang anak.

Lalu bagaimana dengan kehamilan di usia melebihi 35 tahun?

Kehamilan pada usia di atas 45 tahun memang sangat jarang terjadi meskipun memang ada. Kasus kehamilan di atas 45 tahun sering terjadi di negara-negara maju. Penyebabnya, wanita-wanita di negara maju biasanya lebih mengutamakan karirnya dibanding kehidupan keluarga. Atau bisa jadi karena si wanita memang baru memiliki pasangan dan dikaruniai kehamilan pada usia tersebut. Sayangnya, proses kehamilan pada usia di atas 45 tahun bisa menimbulkan berbagai resiko. Meskipun, secara kematangan mental dan sosial, pada usia di atas 45 tahun sudah melebihi kata matang.Lalu apa saja resiko yang mungkin bisa timbul?

Resiko

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa rentang usia kehamilan yang paling tepat adalah usia 21 tahun sampai 35 tahun. Lalu bagaimana dengan kehamilan di atas 45 tahun? Resiko apa yang bisa muncul?

1. Resiko Keguguran

Kualitas sel telur yang paling baik ialah pada usia 24 tahun. Pada usia melebihi 35 tahun, bahkan pada usia 45 tahun, kualitas sel telur sudah makin menurun. Hal tersebut dapat berakibat negatif pada perkembangan janin. Menurunnya kualitas sel telur akan meningkatkan resiko keguguran janin di dalam rahim ibunya.

2. Diabetes Gestasional

Penyakit ini merupakan penyakit yang umumnya timbul pada wanita hamil dengan usia di atas 35 tahun. Pada usia di atas 35 tahun atau bahkan 45 tahun, kinerja insulin seorang wanita makin berkurang. Akibatnya, kadar gula darah akan meningkat pesat dan berakibat buruk pada wanita hamil serta kandungannya. Penyakit diabetes gestasional ini biasanya diketahui setelah melakukan pemeriksaan darah.

Namun bagi yang sedang mengandung pada usia di atas 45 tahun, juga bisa mengetahui tanda-tanda awal penyakit ini, seperti sering kencing saat hamil, rasa haus yang sangat sering (tidak seperti biasa), lebih mudah lelah, mual, bahkan penglihatan kabur. (baca juga : bahaya diabetes saat hamil)

3. Kelahiran Bayi pada Keadaan Prematur

Kelahiran bayi pada kondisi prematur besar resiko terjadinya ketika kehamilan terjadi pada usia di atas 45 tahun. Bayi tidak mampu bertahan lebih lama dalam rahim ibunya sehingga ia akan lahir pada usia kehamilan yang belum mencapai 37 minggu. Hal ini perlu diwaspadai sebagai resiko hamil diatas 35 tahun, karena bayi yang lahir secara prematur bisa mengalami berbagai gangguan kesehatan.

Hal tersebut terjadi karena daya tahan yang dimiliki bayi yang lahir prematur tidak bisa optimal. Masalah lain yang bisa timbul pada si bayi adalah gangguan kognitif. Kemungkinan besar, bayi akan mengalami ketertinggalan secara kognitif bila dibandingkan denga teman-teman sebayanya.

4. Kemungkinan Terjadinya Cacat Kromosom

Resiko timbulnya cacat kromosom bisa terjadi pada kehamilan di atas 45 tahun. Lagi-lagi hal ini disebabkan oleh kualitas sel telur yang tidak baik. Jika hal ini terjadi, bayi bisa lahir dalam keadaan cacat. Untuk mendeteksi kelainan ini, sang ibu harus rutin memeriksakan kehamilan. (baca juga : penyebab janin cacat sejak dalam kandungan)

5. Terganggunya Kesehatan Ibu

Kesehatan seorang ibu yang hamil di usia 40 tahun ke atas bisa mengalami penurunan sehingga timbul masalah kesehatan yang sifatnya masih normal hingga berat. Beban kehamilan bukanlah perkara ringan. Seorang wanita pada usia 45 tahun ke atas memiliki kesehatan fisik yang relatif telah menurun. Bahkan jika wanita tidak hamil pun, pada usia tersebut mereka sering merasakan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan menurunnya daya tahan fisik.

Kondisi ini akan menyebabkan timbulnya resiko kesehatan saat kehamilan di atas usia 45 tahun bisa merujuk pada menurunnya kesehatan sang ibu.

Tips Perawatan Kehamilan

Berbagai resiko yang bisa timbul saat kehamilan di atas 45 tahun memang beragam. Untuk itu, bagi para wanita disarankan agar mengusahakan kehamilan pada usia yang disarankan, yakni 21 tahun hingga 35 tahun. Namun bagi yang saat ini sedang mengandung dengan usia yang tidak lagi muda (di atas 45 tahun), maka bisa membaca beberapa saran berikut untuk menjaga kehamilan juga kesehatan anda sendiri.

1. Waspadai Tanda-tanda Awal

Mewaspadai tanda-tanda awal yang dimaksud di sini ialah untuk mencegah kemungkinan memburuknya kondisi sang ibu dan janin. Tanda-tanda awal yang dimaksud adalah gangguan kehamilan seperti cepat lelah, mual berlebih, mudah haus (tidak normal), sering buang air kecil, sering mengalami infeksi (pada kulit, kandung kemih  dan vagina). Tanda-tanda tersebut merupakan kemungkinan munculnya diabetes gestasional pada tubuh sang ibu.

Jika menemukan tanda-tanda tersebut, segera periksakan kadar gula darah dan segera konsultasikan dengan dokter bila ternyata memang timbul penyakit yang dimaksud.

2. Berolahraga Ringan

Ada beberapa olah raga yang bisa dilakukan oleh ibu hamil. Bagi ibu hamil di atas 45 tahun, rutinlah melakukan olahraga untuk ibu hamil. Olah raga yang paling mudah dan ringan adalah berjalan setiap pagi. Berjalan setiap pagi bisa meningkatkan kesehatan Anda dan juga janin dalam kandungan. Selain itu, udara pagi juga masih relatif bersih sehingga baik untuk Anda. Berolah raga bisa membantu Anda menjaga kebugaran tubuh sehingga Anda tetap fit dan perkembangan janin juga baik.

3. Konsumsi Berbagai Makanan dan Minuman yang Bernutrisi

Dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang tepat kesehatan ibu dan janin akan tetap terjaga karena gizi ibu hamil yang diperlukan tetap terpenuhi. Jika sang ibu memiliki pantangan-pantangan tertentu terhadap makanan maka konsultasikan dengan dokter agar kebutuhan janin dalam kandungan juga terpenuhi.

4. Memeriksakan Kehamilan Secara Rutin

Lakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahui perkembangan janin dan juga tetap menjaga kesehatan sang ibu. Pemeriksaan rutin juga bertujuan untuk mendeteksi sejak dini jika timbul penyakit atau gangguan pada ibu dan bayi. Jika terjadi gangguan, dokter akan segera mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kehamilan ibu. Pada masa awal kehamilan hingga janin berusia 28 minggu lakukan pemeriksaan setiap bulan. Lakukan pemeriksaan 2 sampai 3 kali setiap bulan ketika usia kehamilan mencapai 36 minggu. Menjelang proses persalinan, lakukan pemeriksaan setiap minggu sekali.

Itulah beberapa hal mengenai kehamilan di atas 45 tahun. Disarankan kepada wanita-wanita berkeluarga yang ingin hamil, maka usahakan kehamilan itu terjadi pada usia yang disarankan untuk menekan berbagai resiko yang mungkin timbul. Namun, jika para wanita terpaksa hamil di usia di atas 35 tahun atau bahkan 45 tahun, maka bisa menjalankan berbagai tips kehamilan diatas agar bisa menekan resiko kehamilan yang mungkin timbul.