10 Cara Mengatasi Step Pada Anak Kecil Secara Alami

Step atau serangan kejang yang sering diawali oleh keadaan klinis berupa demam pada anak. Tingkat kejang demam masih sering ditemukan hampir pada setiap puskesmas dan Rumah Sakit pada bagian perawatan penyakit saraf untuk anak. Kejang demam terjadi antara usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan kejang dapat terjadi secara singkat atau lama, dapat terjadi sekali atau berulang kali dalam sehari. Kadang biasa anak tidak langsung sadar setelah terjadi kejang.

(Baca juga: Cara mengatasi kejang demam pada anak)

Kejang terjadi akibat pelepasan mediator kimiawi saat demam yang mana mediator tersebut dapat mengganggu potensial aksi dan menyebabkan perubahan pada perpindahan ion-ion tubuh. dampak dari perpindahan ion tersebut mengganggu depolasisasi neuron dan menyebabkan kejang. Dikatakan bahwa dampak kejang yang terjadi pada anak jika berlangsung lama dapat mempengaruhi fungsi neurologis. Oleh karenanya diperlukan penanganan kejang demam yang harus dilakukan dengan cermat dan cepat oleh orang tua dengan cara:

(Baca juga: Kejang demam pada anak)

1. Tetap tenang

Sebelum menolong anak, pastikan diri terbebas dari panik. Keadaan panik umumnya membuat kita sulit berpikir dan tidak fokus. Hal ini dapat mempengaruhi tindakan kita terhadap kejang anak. Banyak Orang Tua yang panik melihat anaknya saat terjadi kejang. Dalam konsensus milik Perhimpunan Dokter Ahli anak Indonesia, dikatakan bahwa dampak kematian dari kejang demam tidak pernah ditemukan. Angka kejadian gangguan defisit neurologi juga sangat kecil. Terlebih lagi defisit neurologi terjadi hanya jika kejangnya berlangsung lama. Oleh sebab itu, pikiran jernih memegang peranan dalam menangani kejang agar tidak berlangsung lama dan tidak berulang. (Baca juga: Penyebab kejang pada anak)

2. Atur pakaian anak

Saat terjadi serangan, segera kendorkan pakaian anak yang ketat, terutama disekitar leher, agar tidak bersifat mencekik atau menyusahkan anak. Hal ini bertujuan agar menjaga perederan darah serta sirkulasi oksigen pada tubuh. (Baca juga: Penyebab step pada anak)

3. Posisikan anak

Bila saat kejang terjadi lalu anak menjadi tidak sadar, maka posisikan anak pada keadaan terlentang dengan posisi kepala miring. Hal ini bertujuan untuk menjaga tubuh dalam posisi anatomis yang aman serta bila terjadi muntahan atau ada lendir, dapat langsung keluar dari mulut atau hidung saat kepala dimiringkan. (Baca juga: Cara mengatasi demam pada bayi)

4. Bersihkan lendir atau muntahan

Bila pada anak terdapat lendir atau muntahan yang keluar dari mulut atau hidung, maka segera berihkan muntahan atau lendir tersebut. Hal ini bertujuan untuk menjaga patensi napas. Lendir atau muntahan dapat menutup saluran napas sehingga manghambat masuknya oksigen. (Baca juga: Penyebab bayi pilek dan cara mengatasinya)

5. Jangan memasukkan sesuatu ke mulut

Banyak Orang Tua akan kaget saat melihat lidah anaknya sedikit terjulur dan tergigit saat terjadi kejang. Akibat hal tersebut Orang Tua akan berinisiatif untuk memasukkan lidah sang anak dengan suatu benda. Sebaiknya hal ini dihindari, sebab memasukkan benda memiliki dampak bisa menyumbat jalan napas anak apabila benda tertelan masuk. Selain itu jika memasukkan benda kedalam mulut, dapat mendorong lidah kebelakang dan akhirnya juga dapat menutup jalan napas. (Baca juga: Penyebab bayi sering muntah)

6. Ukur suhu

Salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam kejang demam adalah suhu. Perlu diingat bahwa kejang terjadi akibat adanya demam yang memicu serangan. Dengan kata lain, apa bila tidak demam, maka serangan tidak terjadi. Oleh karenanya, apabila suhu tubuh dikontrol agar tidak demam, maka proses terjadinya kejang dapat kita cegah. Untuk mengetahui demam tersebut maka kita perlu melakukan pengukuran suhu. Batas suhu yang dapat memicu kejang demam pada tiap anak berbeda-beda. Oleh kerenanya, bagi Orang Tua yang memiliki anak dengan riwayat kejang demam, perlu diketahui pada suhu berapakah kejang terjadi agar kedepannya Orang Tua bisa memberikan obat demam secepatnya sebelum demam mencapai suhu tersebut. (Baca juga: Cara menurunkan panas pada anak)

7. Perhatikan pola kejang

Saat serangan kejang terjadi, maka Orang tua juga perlu memperhatikan pola kejang. Ketika meembawa anak ke Rumah Sakit, umumnya tenaga medis akan menanyakan pola kejang. Sebab klasifikasi kejang demam terbagi atas sederhana dan kompleks. Selain itu, dengan melihat pola kejang atau serangan yang terjadi, kita dapat mengetahui kapan saatnya benar-benar harus ke Rumah Sakit. (Baca juga: Cerebral palsy pada anak)

8. Dampingi anak

Perlu diingat bahwa saat kejang terjadi, beberapa Orang Tua akan berusaha mencari bantuan dan tanpa sadar meninggalkan sang anak saat sementara kejang untuk mendapatkan bantuan. Saat kejang terjadi maka anak harus didampingi oleh Orang Tua atau Pengasuh. Hal ini penting untuk melihat pola kejang dan menjaga anak apabila ada keadaan emergensi yang tidak diharapkan untuk terjadi. (Baca juga: Cara mengobati batuk berdahak pada bayi)

9. Siapkan obat kejang dan demam di rumah

Apabila anak baru pertama kali mengalami kejang (atau kejang berulang, namun belum memiliki obat kejang), maka Orang Tua perlu secepatnya untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat terapi atau anjuran obat yang cocok digunakan pada anak dengan kejang demam. Biasanya dokter akan memberikan obat penurun demam dan obat kejang. Contoh obat demam biasanya yaitu parasetamol, dan contoh obat kejang yang biasa diberikan dokter adalah diazepam. Biasanya dokter akan memberitahu cara pemberian obat yang akan diberikan serta dosis yang cocok untuk anak (contohnya obat diazepam/kejang diberikan melalui anus). (Baca juga: Gejala cerebral palsy pada bayi)

Mengapa obat kejang harus melalui anus?

Tujuan pemberian obat kejang melalui anus ternyata tidak asal. Menurut teori kedokteran, anus merupakan salah satu jalur yang dapat dipilih untuk memasukkan obat kedalam tubuh. Dibandingkan dengan pemberian obat secara oral (melalui mulut), ternyata pemberian obat melalui anus lebih cepat memberikan reaksi efek obat. Hal ini dikarenakan setelah obat lebur dan terserap di anus, maka obat akan langsung masuk ke sirkulasi darah, berbeda dengan obat oral yang harus meleweti saluran cerna terlebih dahulu. Selain itu, jika anak dalam keadaan kejang dipaksa untuk diberikan obat secara oral, maka akan dapat membahayakan jiwa anak. Hal ini dikarenakan, saat terjadi kejang maka beberapa fungsi kasar tubuh juga dapat terganggu. hal berbahaya yang dapat terjadi ketika diberikan obat oral adalah obat tersebut berpeluang dapat masuk ke saluran napas (bukan saluran cerna) dan dapat menyebabkan gangguan napas dan bahkan kematian akibat gagalnya sirkulasi udara. (Baca juga: Menjemur bayi saat demam)

10. Bawa ke dokter

Walaupun di rumah sudah tersedia persiapan obat untuk penanganan kejang anak, ada saatnya anak juga perlu tetap dibawa ke dokter. Setelah memperhatikan pola kejang yang terjadi pada anak, bila kejang berlangsung 5 menit atau bahkan lebih, maka anak perlu dibawa ke dokter atau ke Rumah Sakit. (Baca juga: Bahaya bayi tidak imunisasi)