Preeklampsia

Preeklampsia adalah satu di antara gangguan kehamilan yang tergolong cukup mengancam karena jika dibiarkan tanpa penanganan tepat dan serius, gangguan ini bisa menyebabkan kematian janin dan atau calon ibu. Di Indonesia, preeklampsia menjadi satu diantara 3 hal yang paling sering menyebabkan kematian janin dan ibu hamil selain pendarahan dan infeksi. Karena itu, pengetahuan tentang pengertian, gejala dan cara penanganan penyakit ini menjadi penting untuk diketahui. Berikut adalah penjelasan detail mengenai preeklampsia.

Pengertian Preeklampsia

Preeklampsia adalah gangguan pada kehamilan tua yang utamanya ditandai dengan hipertensi akut. Karena dapat membayahakan sang ibu dan jabang bayi yang dikandungnya, dokter tak jarang menghentikan kehamilan dalam kasus-kasus yang sudah parah. Karena itu, deteksi dini serta pemeriksaan rutin begitu dibutuhkan untuk mengatasi penyakit ini.

Sesuai dengan namanya, preeklampsia adalah gangguan kesehatan yang mendahulu eklampsia dan umumnya terjadi ketika usia kehamilan menginjak 20 minggu (perkembangan janin 4 bulan). Eklampsia sendiri adalah kelainan akut pada usia kehamilan tua yang terjadi dalam bentuk koma atau kejang dan tak jarang berakhir pada kematian. Ada yang menyamakan preeklampsia dengan keracunan dalam kehamilan karena banyaknya ‘ketidakteraturan’ yang terjadi dalam tubuh. Jika tidak ditangani dengan baik, preeklampsia akan meningkat menjadi eklampsia. Preeklampsia dapat menghalangi plasenta menerima serta menyuplai darah ke janin sehingga asupan nutrisi berkurang dan janin tidak berkembang dengan sempurna. Sementara bagi sang ibu, terhambatnya aliran darah ini menyebabkan kurang optimalnya fungsi organ-organ ini sehingga rawan menyebabkan komplikasi.

Gejala

Gejala-gejala paling umum preeklampsia adalah perama hipertensi dalam kehamilan yang akut, kedua pembengkakan pada bagian tungkai dan wajah, ketiga, kenaikan berat badan yang tidak biasa serta keempat, kandungan protein berlebihan dalam urine atau yang biasa disebut dengan proteinuria. Seorang ibu hamil bisa mengalami satu atau lebih gejala umum tersebut, sehingga jika Anda mengalami salah satunya, segeralah temui dokter untuk memastikan apakah gangguan yang Anda alami adalah gejala preeklampsia atau hanya keluhan biasa karena perubahan hormonal, seperti membengkaknya bagian tubuh.

Selain itu, ada juga gejala-gejala minor yang sering ditemukan pada penderita preeklampsia. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut;

  • Pusing
  • Penglihatan Terganggu
  • Pendengaran Terganggu
  • Rasa nyeri di perut sisi atas dan di bagian dada
  • Minimnya produksi urin atau kencing berdarah
  • Mual atau muntah

Penyebab

Hingga saat ini, sebagian besar ahli medis menyatakan bahwa penyebab pasti preeklampsia belum diketahui. Meski demikian, ada beberapa hal yang dimungkinkan menjadi sebab atau memudahkan penyakit ini terjadi pada seorang ibu hamil. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :

  • Mengalami hamil di usia di bawah 20 tahun, hamil di atas 35 tahun atau kehamilan pertama
  • Pernah mengalami preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
  • Lahir dari kandungan ibu yang mengidap preeklampsia
  • Kelainan plasenta, kurangnya oksigen serta gangguan di bagian pembuluh darah
  • Mengalami kehamilan kembar
  • Kelebihan berat badan (bahaya obesitas bagi ibu hamil)
  • Kekurangan vitamin D
  • Memiliki riwayat penyakit diabetes, memiliki kadar protein yang tinggi dalam tubuhnya, hipertensi serta gangguan ginjal.
  • Penyakit autoimun

Meski demikian, ada juga sebagian penderita preeklampsia yang tidak mengalami gejala seperti tersebut di atas pun juga tidak memiliki ciri-ciri yang menyebabkan penyakit ini muncul. Karena itu, pemeriksaan rutin ke dokter adalah solusi yang tepat sebab semakin dini diketahui, preeklampsia dapat segera diatasi dan dicarikan solusi terbaik.

Penanganan

Penanganan terhadap preeklampsia umumnya disesuaikan dengan keadaan pasien. Jika tekanan darah pasien amat tinggi, sehingga tergolong preeklampsia berat, yakni melebih 160/110 (ukuran normal bagi ibu hamil adalah 120/110) dan atau protein urinnya positif 3, sedang usia kandungan sudah memasuki minggu ke-24, maka dokter umumnya akan mengeluarkan bayi secara paksa melalui operasi caesar. Keputusan yang demikian tak jarang dibuat beberapa hari setelah diagnosa penyakit diberikan. Dalam kasus lain yang lebih darurat, dokter biasanya akan segera menghentikan kehamilan berapapun usia kehamilan dan bagaimanapun keadaan jabang bayi dalam kandungan, baik dengan operasi caesar ataupun induksi.

Tindakan semacam ini memang riskan karena bayi dengan kelahiran prematur biasanya memiliki organ dan otak yang belum sempurna, apalagi jika harus mengorbankan jiwa si jabang bayi. Namun demikian, resiko tindakan ini terbilang lebih kecil dibanding ketika harus membiarkan kehamilan berlanjut dan menunggu hingga minggu 28 di mana persalinan normal biasanya terjadi. Dalam keadaan genting, biasanya nyawa ibu lebih diprioritaskan daripada nyawa si jabang bayi.

Mekanisme yang demikian berlaku karena tekanan darah tinggi akan menghambat kerja berbagai organ penting dan sirkulasi darah ke seluruh tubuh. Ketika hamil, tekanan darah seorang calon ibu seharusnya normal atau bahkan rendah karena dengan sendirinya, tubuh akan mengencerkan dan menambah volume darah. Penambahan volume darah ini dimaksudkan untuk mengalirkan oksigen dan saripati makanan ke jabang bayi serta persiapan untuk proses persalinan yang umumnya ditandai dengan banyaknya darah yang keluar. Sementara itu, jika tekanan darah tinggi, maka pembuluh darah akan mengkerut akibatnya bayi akan kekurangan asupan oksigen dan saripati makanan karena jalur masuk keduanya terhambat. Itulah mengapa, bayi yang lahir dari kandungan ibu pengidap preeklampsia biasanya lahir prematur, lahir dengan berat badan di bawah normal atau lahir dengan kulit kebiruan karena kekurangan nutrisi sehingga tumbuh kembangnya tidak sempurna.

Dalam kasus-kasus lain yang lebih ringan, semisal pada ibu hamil yang mengalami kehamilan di usia normal dan tidak memiliki riwayat penyakit berat serta tekanan darahnya tidak terlalu tinggi. Tindakan yang dilakukan adalah menjalani rawat inap dan mengatur pola makan dengan menghindari konsumsi bahan-bahan yang tidak sehat dan pantangan makanan ibu hamil. Beberapa di antaranya adalah makanan yang dibakar serta makanan yang terlalu asin.

Pencegahan

Selain rutin mengunjungi dokter agar gangguan kehamilan apapun dapat diidentifikasi dan didiagnosis sedini mungkin, ada hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit preeklampsia. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Merencanakan program kehamilan dengan baik
  2. Menjaga pola makan
  3. Mencukupi kebutuhan istirahat
  4. Mengonsumsi makanan rendah lemak
  5. Mengurangi konsumsi makanan asing
  6. Selalu awas terhadap perkembangan kehamilan

Bahaya

Selain akibat-akibat yang disebutkan di atas, preeklampsia yang tidak segera mendapat penanganan juga dapat memberikan akibat negatif pada organ-organ berikut :

  1. Ini ditandai dengan kejang bersamaan dengan turunnya kesadaran. Selain itu, pembuluh darah di otak juga bisa pecah akibat hipertensi yang terlalu tinggi sehingga akan menimbulkan akibat yang lebih parah semisal stroke.
  2. Paru-paru. Kerja paru-paru yang tidak optimal karena kurangnya aliran darah dapat menyebabkan sesak yang kemudian bisa berakibat fatal.
  3. Gangguan penglihatan yang menjadi gejala preeklampsia bisa berlanjut ke tahap yang lebih mengkhawatirkan jika penyakit ini tidak segera ditangani. Kemungkinan terburuknya adalah kebutaan karena tertekannya saraf`mata yang berawal dari bengkak ataupun lepasnya selaput retina. Kebutaan ini biasanya bersifat sementara akan tetapi pemulihannya membutuhkan waktu lama.
  4. Ginjal. Sirkulasi darah yang tidak lancar dan menyebabkan ginjal tidak bisa bekerja maksimal dapat menyebabkan payah ginjal.
  5. Sistem Darah. Menurunnya kadar zat pembekuan darah akan menyebabkan pecahnya sel darah merah sehingga sistem darah dalam tubuh akan semakin terganggu.

Dari berbagai ancaman komplikasi di atas, tak mengherankan jika dokter akan segera mengambil tindakan begitu seorang pasien positif terkena preeklampia. Penanganan yang keliru tidak hanya akan berakibat fatal terhadap kehamilan, akan tetapi juga pada jiwa ibu hamil sendiri. beberapa informasi di atas cukup menggambarkan bahaya penyakit ini serta efek fatal yang bisa terjadi. Namun demikian, tidak perlu khawatir karena dengan deteksi dini dan pemeriksaan yang rutin, penyakit ini bisa diatasi sehingga akibat negatifnya tidak terlalu besar dan merugikan.

Artikel Dalam Kategori Preeklampsia