17 Cara Agar Bayi Tidak Muntah Setelah Minum ASI yang Benar

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Saat bayi menyusu pada ibu, kadang-kadang bayi terlihat memuntahkan kembali ASI yang sudah ia minum, baik dalam jumlah yang banyak maupun sedikit. Muntah cairan ASI pada bayi biasa disebut dengan gumoh. Saat mengeluarkan gumoh, biasanya bayi terlihat tenang dan tidak kesakitan. Namun, terkadang bayi juga bisa terlihat kesakitan saat memuntahkan cairan ASI hingga ia menjadi rewel dan kesakitan. Cairan yang ia muntahkan pun berjumlah banyak. Hal inilah yang termasuk muntah yang tidak normal dan dapat menjadi indikasi adanya gangguan pada kesehatan bayi.

Baca juga:

Meskipun pada umumnya gumoh adalah gejala yang biasa terjadi pada bayi, terutama bayi yang baru lahir, orangtua tetap dapat menyiasatinya dengan mencari tahu cara agar bayi tidak muntah setelah minum ASI. Cara agar bayi tidak muntah setelah minum ASI ini mudah diterapkan olehpara orangtua.

1. Tidak menyusui sambil tiduran

Mengurus anak memang menguras tenaga, pikiran, dan menyita seluruh perhatian orangtua. Ibu yang kelelahan saat mengurus anak terkadang memilih menyusui sambil merebahkan dirinya menyamping, sedangkan bayi menyusu sambil berbaring. Hal ini justru akan membuat ASI yang masuk akan masuk ke saluran pernapasan bagian atas, karena saluran pernapasan atas, mulut, dan tenggorokan saling bersambungan. Hal ini akan memicu terjadinya muntah pada bayi melalui hidung.

2. Menyendawakan bayi

Saat bayi menyusu udara kemungkinan masuk ke dalam pencernaan bayi ketika bayi minum ASI, misalkan pada saat bayi berganti payudara ibu saat menyusu. Udara yang masuk mengakibatkan adanya tekanan di dalam perut  dan membuat bayi muntah setelah minum ASI. Untuk mencegah hal tersebut, usahakan selalu menyendawakan bayi setelah menyusu maupun di tengah-tengah waktu menyusui agar kelebihan udara dalam perut bisa keluar.

Baca juga:

3. Mengatur frekuensi menyusui

Seringkali bayi sudah merasa kekenyangan saat menyusui. Namun, karena ia belum bisa berbicara, orangtua terus menyusuinya. Akibatnya saat bayi kekenyangan dan perutnya penuh oleh ASI, bayi mengalami gumoh. Untuk mencegah hal itu terjadi, frekuensi menyusui yang sering dan sedikit-sedikit lebih baik daripada jarang tapi jumlah ASI yang diminum bayi banyak. Hal ini untuk meminimalisir penuhnya lambung bayi saat meminum ASI.

4. Tidak memakaikan popok yang sempit

Bayi bisa mengalami tekanan pada perutnya jika popok atau celana yang ia pakai terlalu sempit. Oleh karena itu, jangan memakaikan celana atau popok yang terlalu sempit pada bayi agar pada saat bayi menyusui, tetap ada ruang di perut untuk ASI yang masuk saat ia sedang menyusu.

Baca juga:

5. Tidak mengikat tali gurita terlalu kencang

Pada beberapa orangtua, ada yang masih memakaikan kain gurita terutama pada bayi yang baru lahir. Pengikatan tali gurita yang terlalu kencang akan membuat bayi merasa sesak dan menimbulkan tekanan pada perutnya. Akibatnya, saat ASI baru terisi sedikit, perutnya sudah tertekan, hingga bayi bisa muntah setelah ia menyusu sebentar. Oleh karena itu, renggangkanlah tali gurita sedikit pada perut bayi dan jangan mengikatnya terlalu kencang untuk mengurangi tekanan pada perutnya.

6. Jangan memancing bayi banyak bergerak

Ada kalanya bayi belum merasa mengantuk setelah ia habis menyusu, dan orangtua lalu mengajaknya bermain dan memanggil-manggil bayi. Bayi yang menerima rangsang dan panggilan orangtua akan memberikan respon dan bergerak-gerak.

Baca juga:

Sama seperti orang yang baru makan kemudian langsung berlompat-lompat atau berlari, bayi yang baru menyusu kemudian banyak bergerak akan memicu tekanan pada perutnya karena badannya berguncang-guncang. Akibatnya, terjadilah refluks atau terdorongnya ASI yang sudah ia telan ke atas dan keluar melalui mulut. Oleh karena itu setelah bayi menyusui orangtua sebaiknya cukup membelai bayi tanpa memberinya rangsang berlebihan agar bayi tidak terpancing untuk banyak bergerak setelah ia minum ASI.

7. Tidak meletakkan bayi di highchair

Highchair atau kursi khusus bayi makan sangat memudahkan orangtua untuk memberikan makan pada bayinya. Khusus untuk bayi di bawah usia satu tahun, sebaiknya orangtua tidak langsung meletakkan bayi di highchair. Bayi yang berusia masih sangat muda di abwah satu tahun belum memiliki katup lambung yang sempurna. Meletakkan bayi di highchair akan memberikan tekanan pada perut bayi yang baru saja menyusu, sehingga bisa memicu bayi muntah setelah minum ASI.

8. Menjaga agar bayi tidak terlalu kenyang

Setelah beberapa kali menyusui bayi, orangtua akan terbiasa dan mengetahui kapan kira-kira bayi merasa kenyang. Termasuk saat bayi memperlihatkan reaksi penolakan setelah beberapa saat menyusu seperti menghindari puting, itu pertanda bayi sudah merasa kenyang. Jangan membuat perut bayi terlalu penuh agar tidak terjadi gumoh atau muntahan yang keluar.

Baca juga:

9. Jangan tunggu bayi sangat kelaparan

Orangtua harus memiliki jadwal menyusui yang teratur untuk bayi dan dilakukan secara konsisten. Jangan biarkan bayi sangat kelaparan saat menyusu. Bayi yang kelaparan kemungkinan asam lambungnya naik dan perutnya terisi gas. Apabila menyusu pada saat bayi sangat kelaparan, ASI yang masuk justru akan berbalik kembali ke atas alih-alih masuk ke dalam lambung. Orangtua sebaiknya menghangatkan perut bayi dan mengobati kembungnya dulu, baru memberikan ASI secara perlahan agar bayi tidak muntah.

10. Mengatur posisi tubuh dan kaki bayi

Untuk mencegah agar bayi tidak muntah setelah minum ASI, ibu bisa mengubah posisinya saat menyusui. Posisi yang baik untuk menyusui adalah tidak sambil tiduran. Ibu menyusui sambil duduk, sementara bayi diletakkan dengan posisi lebih tegak 30 sampai 40 derajat lebih tinggi daripada kakinya dalam pangkuan ibu.

Baca juga:

11. Jangan langsung mengangkat bayi

Reaksi pertama orangtua yang melihat bayi gumoh adalah langsung mengangkat bayi agar muntahnya bisa berhenti. Hal ini justru akan memicu masuknya cairan ASI ke saluran pernapasan, kemudian ke paru-paru. Saat bayi muntah atau gumoh, lebih baik orangtua memiringkan badan bayi atau menengkurapkannya dan menunggu sampai guomhnya berhenti. Setelah itu, orangtua dapat mengelap sisa gumoh bayi di mulut dan pakaiannya.

12. Membiarkan bayi gumoh

Gumoh pada bayi, terutama bayi yang baru lahir adalah hal yang biasa terjadi karena sistem pencernaan bai memang belum terbentuk sempurna. Maka, jika bayi mengeluarkan gumoh, orangtua cukup membersihkannya dan tidak mengangkat bayi secara serta merta.

13. Mengatur posisi botol dot

Apabila bayi meminum ASI perah atau susu formula melalui botol dot (bukan dari payudara ibu), maka sebaiknya orangtua mengawasi aliran udara dalam dot. Orangtua harus memastikan tidak ada udara (atau hanya sedikit) udara yang masuk ke dalam perut bayi saat ia menyusu lewat botol dot. Udara yang masuk ke dalam perut bayi secara berlebihan akan mengakibatkan perutnya kembung dan menyebabkan bayi muntah.

14. Menjaga tubuh bayi agar tidak masuk angin

Tubuh bayi yang terlalu terbuka akan memicu bayi terkena masuk angin atau mengalami perut kembung. Perut kembung akan membuat bayi merasa sakit dan tidak bisa menyusu. Apabila orangtua memaksakan menyusui bayi saat perutnya kembung, maka bayi bisa muntah. Ada hal-hal yang dapat dilakukan orangtua agar bayi tidak masuk angin, misalkan tidak membiarkan bayi dengan pakaian yang terlalu tipis, tidak mengarahkan kipas angin secara langsung kepada bayi, dan memakaikan jaket kepada bayi saat orangtua membawa bayi bepergian (terutama jika menggunakan sepeda motor).

15. Jika bayi telihat ingin muntah

Jika bayi terlihat memonyong-monyongkan bibirnya dan wajahnya terlihat tidak nyaman, itu bisa menjadi tanda-tanda bayi ingin muntah. Segera miringkan tubuh bayi jika ia terlihat akan muntah untuk menjaga cairan muntahan bayi tidak masuk ke dalam saluran pernapasan yang dapat membahayakan dirinya.

Baca juga:

16. Mengecek dot botol susu bayi

Saat orangtua memberikan ASI perah atau susu formula menggunakan dot, hal penting lain yang harus dilakukan orangtua selain mensterilkan botolnya adalah memastikan dot pada botol susu bayi berukuran pas dengan mulutnya. Ukuran dot yang terlalu kecil akan membuat ruang udara yang lebih besar sehingga bisa memungkinkan udara masuk dari luar ke dalam perut bayi akan lebih besar pula. Udara yang terlalu banyak masuk ke perut akan memberikan tekanan di perut bayi sehingga mendorong bayi ingin muntah.

Baca juga:

17. Menjaga kesterilan botol susu bayi

Penyebab bayi gumoh ada berbagai macam, baik yang alami (seperti belum terbentuknya klep lambung yang sempurna), maupun yang berupa gangguan, seperti infeksi akibat virus atau bakteri. Jika orangtua ingin memberikan ASI perah atau susu formula dengan botol bayi, maka pastikan botol susu dan dotnya sudat disterilkan untuk membunuh kuman-kuman penyebab penyakit yang masih tertinggal setelah dicuci. Virus dan bakteri penyebab penyakit akan menyebabkan gangguan saluran pencernaan pada bayi jika masuk ke dalam tubuhnya. Ada beberapa jenis bakteri yang menciptakan gas dalam perut bayi, sehingga bayi merasa ingin muntah setelah menyusu. Oleh karena itu, sangat penting menjaga kesterilan botol susu bayi sebelum digunakan.

Berikut adalah Cara Agar Bayi Tidak Muntah Setelah Minum ASI yang wajib diketahui agar buah hati anda merasa nyaman setelah minum asi.

fbWhatsappTwitterLinkedIn